A.
Judul

Penggunaan Metode PQ4R Untuk
Meningkatkan Kemampuan Siswa dalam Membaca Al-Qur’an (PTK pada Siswa Kelas III
SD Negeri 2 Legokjawa, Kecamatan Cimerak, Kabupaten Ciamis Tahun Pelajaran
2009/2010)
B. Penulis
Nama : Eman
Sudirman, S.Pd.I
Tempat Tugas : SD Negeri 2
Legokjawa, Kec. Cimerak, Kab. Ciamis
No. Hp :
085321830808
C. Abstrak

Penelitian tindakan
kelas ini bermula dari kesenjangan, di mana sebagian besar siswa kelas III SD
Negeri 2 Legokjawa, Kecamatan Cimerak, Kabupaten Ciamis, kurang mampu membaca
Al-Qur’an. Hal ini disebabkan dalam pengelolaan KBM tidak menggunakan metode
yang tepat. Untuk mengatasinya digunakan metode PQ4R. Fokus penelitian ini
ditujukan untuk memecahkan dua pokok masalah yang telah dirumuskan pada rumusan
masalah. Guna mencari jawaban atas pokok masalah yang dirumuskan, maka
dilakukan penelitian tindakan kelas. Sumber data penelitian ini adalah
aktivitas guru dan siswa yang menjadi subjek penelitian dalam pembelajaran
membaca Al-Qur;an yang disajikan dengan menggunakan metode PQ4R, yang
dilaksanakan dalam tiga siklus. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan
berbagai teknik, seperti observasi, tes, wawancara, dan dokumentasi. Data yang
diperoleh melalui berbagai teknik tersebut, dianalisis secara deskriptif. Dari
hasil analisis yang telah dilakukan dapat diambil simpulan guna menjawab pokok
masalah yang diajukan, yakni sebagai berikut.
1.
Langkah-langkah penggunaan metode PQ4R untuk
meningkatkan kemampuan siswa dalam membaca Al-Qur’an, meliputi:
1) Menyusun
rencana pelaksanaan pembelajaran dan melengkapi perangkat yang diperlukan guna
menunjang pelaksanaan pembelajaran yang diharapkan. Setiap komponen perencanaan
pembelajaran dirumuskan dengan jelas, agar memberi pedoman kepada guru ketika
mengelola KBM di kelas.
2) Melaksanakan
pembelajaran sesuai dengan rencana. Artinya, guru dan siswa berusaha
berperilaku seperti yang telah ditentukan. Satu sama lain saling berusaha
secara maksimal untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
3) Guru
dan siswa melakukan evaluasi sesuai dengan rencana dan menindaklanjuti hasilnya
dengan cara-cara yang efektif.
2.
Penggunaan metode PQ4R terbukti dapat meningkatkan kemampuan
siswa kelas III SD Negeri 2 Legokjawa dalam membaca Al-Quran. Dampak dari
penggunaan metode PQ4R ditandai dengan peningkatan ketuntasan belajar siswa
dalam setiap siklus, yaitu siklus I (68,18%), siklus II (77,27%), siklus III
(86,36%).
|
D. Kata
Kunci: Peningkatan, Kemampuan Siswa, Membaca Al-Qur’an, Metode PQ4R
E. Pendahuluan
a. Latar
Belakang Masalah
Pendidikan merupakan suatu proses
di dalam menemukan transformasi baik dalam diri, maupun komunitas. Oleh sebab itu,
proses pendidikan yang benar adalah membebaskan seseorang dari berbagai kungkungan,
intimidasi, dan ekploitasi. Disinilah letak afinitas dari padagogik, yaitu membebaskan manusia secara komprehensif
dari ikatan-ikatan yang terdapat diluar dirinya atau dikatakan sebagai sesuatu yang
mengikat kebebasan seseorang. Hal
ini terjadi jika pendidikan dijadikan instrumen oleh sistem penguasa yang ada
hanya untuk mengungkung
kebebasan individu. Secara memis pendidikan yang ada di Indonesia adalah sebagian kecil yang terdesain dan
terorganisir oleh bingkai sistem. Gambaran sistem semacam itu merupakan bentuk pemaksaan
kehendak dan merampas kebebasan individu, kesadaran potensi, beserta kreativitas bifurkasi.
Maka pendidikan telah berubah menjadi instrumen oppressive bagi perkembangan
individu atau komunitas masyarakat (Tilaar, 2004: 58).
Menurut teori
psikologi, anak yang rasional selalu bertindak sesuai tingkatan perkembangan
umur mereka. Ia mengadakan reaksi-reaksi terhadap lingkungannya, atau adanya
aksi dari lingkungan maka ia melakukan kegiatan atau aktivitas. Dalam
pendidikan kuno aktivitas anak tidak pernah diperhatikan karena menurut
pandangan mereka anak dilahirkan tidak lain sebagai “orang dewasa dalam bentuk
kecil”. Ia harus diajarkan menurut kehendak orang dewasa. Karena itu ia harus
menerima dan mendengar apa-apa yang diberikan dan disampaikan orang dewasa/guru
tanpa dikritik. Anak tak obahnya seperti gelas kosong yang pasif menerima apa
saja yang dituangkan ke dalamnya.
Pandangan yang
lebih maju (modern) menganggap hal tersebut di atas sesuatu yang keterlaluan,
menyiksa serta mengingkari harkat kemanusiaan anak. Aliran modern ini merombak
dan mengubah pandangan itu dan mengantikannya dengan penekanan pada kegiatan
anak dalam proses pembelajaran. Anak aktif mencari sendiri dan bekerja sendiri.
dengan demikian anak akan lebih bertanggung jawab dan beani mengambil keputusan
sehingga pengertain mengenai suatu persoalan benar-benar mereka pahami dengan
baik. Walaupun mereka mengambil keputusan sendiri berdasarkan pertingan kata
hatinya, namun putusan mereka tersebut berhubungan juga dengan masyarakat,
sebab individu itu baru berarti kalau ia telah berada dalam masyarakat.
Ruang lingkup PAI
tentunya mencakup aspek keagamaan secara menyeluruh (kaffah) baik orientasi tauhid maupun akhlak. Tauhid merupakan
pendalaman diri mengenal Allah dan akhlak merupakan implementasi periaku dan
sifat naluriah manusia di dalam kehidupan yangdidasarkan pada Al-quran.
Al-quran sebagai
pedoman kehidupan umat
manusia yang di dalamnya
menjangkau setiap aspek kehidupan. Tentunya sebagai muslim sejati merupakan
sebuah kewajban untuk mendalaminya, supaya manusia bisa menemukan intisari
kehidupan ini yang sebenarnya bahwa hidup adalah menuju ridha sang khalik. Pendalaman ini tentunya
berawal dari membaca apa yang ada di dalam Al-quran. Dalam hal ini, memupuk
pemahaman sejak kecil akan memupuk moral yang leih baik untuk masa depan anak.
Kemampuan membaca Al-quran bagi siswa, sangatlah penting. Dengan
membaca, siswa akan memperoleh ilmu pengetahuan dan pengalaman tertentu. Siswa
yang berkemampuan membaca, akan mampu menjawab setiap persoalan terkait dengan
berbagai mata pelajaran pokok di sekolah. Bahkan, dengan berbekal kemampuan
ini, siswa pun akan mampu hidup bersosial dengan baik di masyarakat. Berbeda
dengan siswa yang kurang memiliki kemampuan ini, setiap menghadapi persoalan
biasanya menghindar dan bahkan ada kecenderungan sering menutup diri, baik
dalam lingkungan sekolah, lingkungan keluarga, maupun lingkungan masyarakat.
Dengan mengetahui situasi di atas, setiap pendidik di sekolah berkewajiban untuk selalu
mengingatkan para siswanya agar memiliki kebiasaan membaca yang baik. Selain
itu, guru pun harus berusaha meningkatkan kemampuan membaca mereka melalui
berbagai upaya strategis, termasuk di dalamnya memberi contoh cara membaca yang
efektif, selalu mengelola pembelajaran yang di dalamnya terdapat pembagian
waktu untuk membaca bagi siswa, dan upaya lainnya, seperti memanfaatkan
perpustakaan sekolah dan memberi tugas untuk membaca di rumah. Melalui upaya
tersebut, cepat atau lambat akan membentuk kebiasaan siswa untuk selalu membaca
dengan baik.
Selain itu, siswa pun harus sadar terhadap tuntutan ini.
Tanpa adanya kesadaran dari siswa untuk membaca, kiranya upaya guru akan
sia-sia. Sadar akan hal itu sangat penting, luangkanlah waktu untuk membaca.
Bacalah sesuatu yang baik dan menguntungkan, seperti membaca berbagai buku di
perpustakaan, membaca majalah pendidikan, membaca surat kabar dan yang
sejenisnya. Jika hal ini dapat dilakukan siswa dengan sebaik-baiknya, niscaya
akan diperoleh informasi yang dibutuhkan terkait dengan tujuan membacanya.
Melihat fenomena yang terjadi
pada saat sekarang ini banyak kalangan yang mulai melihat sistem pendidikan sekolah
sebagai salah satu solusi untuk terwujudnya produk pendidikan yang tidak saja
cerdik, pandai, lihai, tetapi juga berhati mulia dan berakhlakul karimah. Hal
tersebut dapat dimengerti karena sekolah memiliki karakteristik yang
memungkinkan tercapainya tujuan yang dimaksud. Karena itu, sejak lima dasawarsa
terakhir diskursus diseputar sekolah menunjukkan perkembangkan yang cukup
pesat. Hal ini tercermin dari berbagai focus wacana, kajian dan penelitian para
ahli, terutama setelah kian diakuinya kontribusi dan peran sekolah yang bukan
saja sebagai “sub kultur” (untuk menunjuk kepada lembaga yang bertipologi unik
dan menyimpang dari dari pola kehidupan umum di negeri ini) sebagaimana
disinyalir Abdurrahman Wahid (1984:32) Tetapi juga sebagai “institusi kultural”
(untuk menggambarkan sebuah pendidikan yang punya karakter tersendiri sekaligus
membuka diri terhadap hegemoni eksternal). sebagaimana ditegaskan oleh Hadi
Mulyo (1985 : 71).
Tuntutan
melakukan perubahan-perubahan
dalam mengorganisasikan kelas, penggunaan metode mengajar, strategi belajar
mengajar, maupun sikap dan karakteristik guru dalam mengelola proses belajar
mengajar. Guru berperan sebagai pengelola proses belajar-mengajar, bertindak
sebagai fasilitor yang berusaha mencipatakan kondisi belajar mengajar yang
efektif, sehingga memungkinkan proses belajar mengajar, mengembangkan bahan
pelajaran dengan baik, dan meningkatkan kemampuan siswa untuk menyimak
pelajaran dan menguasai tujuan-tujuan pendidikan yang harus mereka capai. Untuk
memenuhi hal tersebut di atas, guru dituntut mampu mengelola proses belajar
mengajar yang memberikan rangsangan kepada siswa, sehingga ia mau belajar
karena siswalah subyek utama dalam belajar.
Berdasarkan uraian tersebut diatas maka peneliti ingin
mencoba melakukan penelitian dengan judul “Peningkatan
Kemampuan Siswa dalam Membaca Al-Quran dengan Menggunakan Strategi Elaborasi Model PQ4R (PTK pada Siswa Kelas III SD Negeri 2 Legokjawa, Kecamatan Cimerak, Kabupaten
Ciamis, Tahun Pelajaran 2009/2010)”.
b. Rumusan
Masalah
Bertolak
dari latar belakang dan identifikasi masalah di atas, apa yang menjadi pokok
masalah dalam penelitian tindakan kelas ini dapat dirumuskan sebagai berikut.
1.
Bagaimana
langkah-langkah menggunakan strategi elaborasi model PQ4R agar dapat
meningkatkan kemampuan siswa Kelas III SD Negeri 2 Legokjawa dalam membaca Al-Qur’an?
2.
Apakah
penggunaan strategi elaborasi model PQ4R dapat meningkatkan kemampuan siswa Kelas
III SD Negeri 2 Legokjawa dalam membaca Al-Qur’an?
c. Tujuan
Penelitian
Sesuai dengan permasalahan di atas, penelitian ini
bertujuan agar:
1.
Guru mata
pelajaran PAI Kelas III SD Negeri 2 Legokjawa
dapat memperbaiki kinerjanya dalam mengelola proses pembelajaran membaca
Al-Qur’an berdasarkan langkah-langkah strategi elaborasi model PQ4R.
2.
Siswa
dapat memperbaiki proses belajarnya menjadi lebih aktif dan hasil belajarnya
mencapai target yang diharapkan.
d. Manfaat
Penelitian
Ada beberapa manfaat yang dapat diambil
dihikmahnya, baik oleh yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung
dalam penelitian tindakan kelas ini. Adapun manfaat dimaksud, dapat dijelaskan
sebagai berikut.
1.
Manfaat
secara teoretis bagi semua pihak, antara lain:
1)
bagi
guru kelas III yang mengampu mata pelajaran PAI dan siswa yang terlibat secara
langsung dalam penelitian ini akan memperoleh pengetahuan tambahan tentang cara
mengelola proses pembelajaran membaca Al-Qur’an berdasarkan langkah-langkah strategi
elaborasi model PQ4R;
2)
bagi
guru kelas lebih tinggi yang mengampu mata pelajaran PAI, baik yang bertugas di
sekolah tersebut maupun di tempat lain akan memperoleh pengetahuan tambahan, dalam
mengelola proses proses pembelajaran membaca Al-Qur’an berdasarkan
langkah-langkah strategi elaborasi model PQ4R;
3)
bagi
sekolah tempat berlangsungnya penelitian tindakan kelas ini akan memperoleh
informasi mengenai kualitas pengelolaan pembelajaran mata pelajaran PAI.
2.
Manfaat
secara praktis bagi semua pihak, antara lain:
1)
guru
mata pelajaran PAI dan siswa yang terlibat secara langsung dalam proses
penelitian tindakan kelas ini selain mendapat pengalaman sebagai pelaku juga
masing-masing akan mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki kinerja di masa
lalu;
2) bagi guru mata pelajaran PAI yang
lainnya, baik yang bertugas di sekolah tersebut maupun di tempat lain akan
memperoleh tolok ukur dalam melaksanakan penelitian tindakan kelas dan
mengelola proses pembelajaran membaca Al-Qur’an berdasarkan langkah-langkah
strategi elaborasi model PQ4R;
3) bagi sekolah tempat berlangsungnya
penelitian tindakan kelas ini akan memperoleh bahan refleksi penting untuk
meningkatkan kualitas pengelolaan proses pembelajaran mata pelajaran PAI.
e. Kajian
Pustaka dan Hipotesis Tindakan
1. Membaca
Al Qur’an
1) Arti
Membaca
Menurut Amin (1996: 26) “Membaca merupakan salah satu
kunci utama untuk memasuki istana ilmu, berperan sebagai landasan yang mantap
serta kegiatan yang menyajikan sumber-sumber bahan yang tak pernah kering bagi
berbagai aktivitas ekpresif dan produktif dalam kehidupan sehari-hari”.
Pembelajaran membaca memang mempunyai peranan penting
sebab melalui pembelajaran membaca, guru dapat mengembangkan nilai-nilai moral,
kemampuan bernalar dan kualitas anak didik. (Akhadiah, 1992:29).
2)
Arti
Al-Qur’an
Al Qur’an adalah
kalam Allah yang tiada tandingnya, diturunkan kepada nabi Muhamad saw, penutup
para nabi dan rasul, dengan perantaraan Jibril, dan ditulis pada mushaf-mushaf
yang kemudian disempaikan kepada kita secara mutawatir, serta membca dan
mempelajarinya merupakan ibadah, yang dimulai dengan surah Al-Fatihah dan
ditutup dengan surah An-Nas.”
Pendapat Ulama
tentang asal kata Al Qur’an, Asy-syafi’i, miisalnya, menengarai kata Al-Quran
ditulis dan dibaca tanpa menggunakan hamzah (Al-Quran bukan Al Qur’an) nama ini
disematkan pada kitab suci yang diwahyukan kepada nabi Muhamad, sama halnya
dengan nama Taurat dan Injil yang masing-masing secara berurutan diberikan
kepada nabi isa dan nabi musa (Zuhdi, 1997)
2.
Tuntutan
dalam Pembelajaran Al-quran
Dalam
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) Kelas III SD untuk Mata pelajaran
PAI pada semester I terdapat suatu tuntutan yang harus dipenuhi siswa, yaitu
mampu membaca Al-Qur’an.
Untuk
mampu memenuhi tuntutan di atas, setiap siswa harus membaca kritis, agar dapat
menemukan setiap tuntutan tersebut dengan benar. Hal ini sangat mungkin dapat
dipenuhi oleh setiap siswa, tentunya dengan catatan penuh keseriusan pada saat
membacanya. Selain itu, persiapkan catatan kecil untuk merekomendasikan fakta
yang mendukung, agar setiap indikator yang dipenuhi dapat disertai bukti yang
benar.
3.
Strategi
Elaborasi Model PQ4R
Menurut
Iskandarwassid dan Sunendar (2009: 12) “Strategi elaborasi adalah proses
penambahan rincian sehingga informasi baru akan menjadi lebih bermakna”. Lebih
lanjut Iskandarwassid dan Sunendar (2009: 12) mengemukakan bahwa,
Dengan
strategi elaborasi pengkodean lebih mudah dilakukan dan lebih memberikan
kepastian. Strategi elaborasi membantu pemindahan informasi baru dari memori di
otak yang bersifat jangka pendek ke jangka panjang dengan menciptakan hubungan
dan gabungan antara informasi baru dengan yang pernah ada.
Beberapa bentuk strategi elaborasi adalah pembuatan catatan, analogi,
dan PQ4R. PQ4R adalah singkatan dari Preview
(membacaselintas dengan cepat), Question
(bertanya), dan 4R singkatan dari Read,
Reflect, Recite, dan Review
(membaca, merefleksi, menanyakan pada diri sendiri, dan mengulang secara
menyeluruh). Menurut Iskandarwassid dan
Sunendar (2009: 12) “Strategi PQ4R merupakan strategi belajar elaborasi yang
terbukti efektif dalam membantu peserta didik menghafal informasi bacaan”.
Agar diperoleh suatu
skenario yang jelas mengenai langkah-langkah pembelajaran membaca yang
disajikan dengan menggunakan strategi elaborasi model PQ4R, berikut ini akan
disertakan ilustrasi yang diberikan Iskandarwassid dan Sunendar (2009: 15),
seperti diuraikan dalam tiga tahapan di bawah ini.
1) Tahap
prabaca, diisi oleh kegiatan:
(1) guru
menyeleksi dan menetapkan bahan bacaan yang relevan dengan tujuan;
(2) guru
berusaha memahamkan siswa terhadap langkah-langkah belajar membaca berdasarkan
strategi elaborasi model PQ4R;
(3) guru
memotivasi siswa dengan manfaat yang akan diperoleh setelah mengikuti
pembelajaran membaca berdasarkan langkah-langkah strategi elaborasi model
PQ4R;
(4) guru
mengevaluasi kemampuan awal siswa dalam memenuhi setiap tuntutan pembelajaran
membaca melalui tes tulis yang sudah direncanakan.
2) Tahap
saat baca, diisi oleh kegiatan:
(1) siswa
membaca selintas dengan cepat (preview)
mengenai teks bacaan;
(2) siswa
mengajukan pertanyaan (question)
terkait dengan tujuan pembelajaran berdasarkan hasil membaca selintas;
(3) siswa
membaca dengan teliti (read) bacaan
yang sudah dibacanya secara selintas;
(4) siswa
merefleksi (reflect) hasil membacanya
dengan mengacu pada pencapaian tujuan;
(5) siswa
menanyakan pada diri sendiri (recite)
terkait dengan tuntutan yang harus dipenuhinya setelah pembelajaran;
(6) siswa
mengulangi membaca secara menyeluruh (review) teks bacaan yang sudah lebih dulu
dibacanya untuk mendapatkan sesuatu terkait dengan tujuan pembelajaran.
3) Tahap
pasca baca, diisi oleh kegiatan:
(1) guru
memberi tindak lanjut untuk lebih memahamkan siswa sehubungan dengan tuntutan
pembelajaran;
(2) guru
mengevaluasi kemampuan membaca siswa, sesuai dengan teknik yang telah
ditentukan;
(3) guru
dan siswa menutup kegiatan dengan mengambil simpulan untuk dijadikan bahan
catatan ke depan saat memenuhi tuntutan yang sama.
Setiap
strategi dapat dipastikan memiliki keunggulan dan kelemahan tersendiri, seperti
halnya strategi elaborasi model PQ4R. Keunggulan yang dimiliki strategi ini,
antara lain:
1) lebih
memusatkan perhatian pada proses dan produk hasil baca siswa;
2) siswa
mengalami sendiri proses uji baca untuk menghasilkan suatu pemahaman guna
menjawab pertanyaan terkait dengan isi bacaan;
3) membantu
tumbuh kembangnya kemampuan membaca siswa;
4) hasil
uji baca siswa akan sinkron dengan tujuan pembelajaran.
Sedangkan kelemahan dari
strategi ini, antara lain:
1) tidak
setiap siswa mendapat kesempatan yang baik untuk membaca karena terbatas waktu;
2) antarsiswa
tidak terjadi saling belajar karena masing-masing dihadapkan dengan yang sama;
3) membutuhkan
bahan yang tidak sedikit tetapi harus seragam yang belum tentu tersedia.
Upaya
untuk mengatasi kelemahan strategi ini dikemukakan Iskandarwassid dan Sunendar
(2009: 17), yakni “Perpanjang waktu pembelajaran, agar setiap siswa dapat
menempuh proses yang telah ditentukan. Bentuk kelompok belajar yang
beranggotakan 2 sampai 3 orang, agar antarsiswa dapat saling belajar. Selain
itu, upaya ini pun ditujukan untuk mengefektifkan bahan bacaan yang tersedia”.
b.
Hipotesis
Tindakan
Bertolak dari pokok
masalah penelitian dan uraian teori di atas, dapat dirumuskan sebuah hipotesis
tindakan yang berbunyi sebagai berikut “Penggunaan strategi elaborasi model
PQ4R dapat meningkatkan kemampuan siswa Kelas III SD Negeri 2 Legokjawa dalam membaca Al-Qur’an”.
F. Metodologi Penelitian
a. Metode
Penelitian
Penelitian
ini merupakan penelitian tindakan (action
research), karena penelitian dilakukan untuk memecahkan masalah
pembelajaran di kelas. Penelitian ini juga termasuk penelitian deskriptif,
sebab menggambarkan bagaimana suatu teknik pembelajaran diterapkan dan
bagaimana hasil yang diinginkan dapat dicapai.
Dalam
penelitian tindakan ini menggunakan bentu guru sebagai peneliti, penanggung
jawab penuh penelitian tindakan adalah praktisi (guru). Tujuan utama dari
penelitian tindakan ini adalah meningkatkan hasil pembelajaran di kelas dimana
guru secara penuh terlibat dalam penelitian mulai dari perencanaan, tindakan,
pengamatan dan refleksi.
Dalam
penelitian ini peneliti tidak bekerjasama dengan siapa pun, kehadiran peneliti
sebagai guru di kelas sebagai pengajar tetap dan dilakukan seperti biasa,
sehingga siswa tidak tahu kalau diteliti. Dengan cara ini diharapkan didapatkan
data yang seobjektif mungkin demi kevalidan data yang diperlukan.
Penelitian
ini akan dihentikan apabila ketuntasan belajar secara kalasikal telah mencapai
85% atau lebih. Jadi dalam penelitian ini, peneliti tidak tergantung pada
jumlah siklus yang harus dilalui.
b. Tempat,
Waktu, dan Subjek Penelitian
1. Tempat
Penelitian
Tempat
penelitian adalah tempat yang digunakan dalam melakukan penelitian untuk
memperoleh data yang diinginkan. Penelitian ini bertempat di SD Negeri 2
Legokjawa, Kecamatan Cimerak , Kabupaten Ciamis Tahun Pelajaran 2009/2010.
2. Waktu
Penelitian
Waktu penelitian adalah waktu berlangsungnya penelitian
atau saat penelitian ini dilangsungkan. Penelitian ini dilaksanakan pada Minggu
I bulan Agustus semester gasal 2009/2010.
3. Subjek
Penelitian
Subjek
penelitian adalah siswa-siswi Kelas III SD Negeri 2 Legokjawa, Kecamatan Cimerak,
Kabupaten Ciamis Tahun Pelajaran 2009/2010.
c. Desain
Penelitian
Sesuai
dengan jenis penelitian yang dipilih, maka dipilih pula desain penelitiannya, yaitu
menggunakan model penelitian tindakan dari Kemmis dan Taggart (dalam Sugiarti, 1997: 6), yang berbentuk
spiral dari sklus yang satu ke siklus yang berikutnya. Setiap siklus meliputi planning (rencana), action (tindakan), observation
(pengamatan), dan reflection (refleksi).
Langkah pada siklus berikutnya adalah perncanaan yang sudah direvisi, tindakan,
pengamatan, dan refleksi. Sebelum masuk pada siklus 1 dilakukan tindakan
pendahuluan yang berupa identifikasi permasalahan.
d. Teknik
dan Instrumen Penelitian
Pengumpulan
data dalam penelitian ini menggunakan beberapa teknik, seperti observasi, tes,
wawancara, dan dokumentasi.
e. Teknik
Analisis Data
Untuk
mengetahui keefektifan suatu metode dalam kegiatan pembelajaran perlu diadakan
analisa data. Pada penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif
kualitatif, yaitu suatu metode penelitian yang bersifat menggambarkan kenyataan
atau fakta sesuai dengan data yang diperoleh dengan tujuan untuk mengetahui
prestasi belajar yang dicapai siswa juga untuk memperoleh respon siswa terhadap
kegiata pembelajaran serta aktivitas siswa selama proses pembelajaran.
Untuk
mengalisis tingkat keberhasilan atau persentase keberhasilan siswa setelah
proses belajar mengajar setiap putarannya dilakukan dengan cara memberikan
evaluasi berupa soal tes tertulis pada setiap akhir putaran.
Analisis ini dihitung dengan
menggunakan statistik sederhana yaitu:
f.
Untuk
menilai ulangan atu tes formatif
Peneliti
melakukan penjumlahan nilai yang diperoleh siswa, yang selanjutnya dibagi
dengan jumlah siswa yang ada di kelas tersebut sehingga diperoleh rata-rata tes
formatif dapat dirumuskan:

Dengan
:
= Nilai rata-rata

Σ X =
Jumlah semua nilai siswa
Σ N = Jumlah siswa
g.
Untuk
ketuntasan belajar
Ada
dua kategori ketuntasan belajar yaitu secara perorangan dan secara klasikal.
Berdasarkan petunjuk pelaksanaan belajar mengajar kurikulum 1994 (Depdikbud,
1994), yaitu seorang siswa telah tuntas belajar bila telah mencapai skor 65%
atau nilai 65, dan kelas disebut tuntas belajar bila di kelas tersebut terdapat
85% yang telah mencapai daya serap lebih dari sama dengan 65%. Untuk menghitung
persentase ketuntasan belajar digunakan rumus sebagai berikut:

G.
Hasil Penelitian dan Pembahasan
a. Hasil Penelitian
Siklus I
1. Tahap
Perencanaan
Pada
tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari rencana
pelajaran 1, LKS 1, soal tes formatif 1, dan alat-alat pengajaran yang
mendukung.
2. Tahap
Pelaksanaan, Observasi, dan Refleksi
Pelaksanaan
kegiatan belajar mengajar untuk siklus I dilaksanakan pada Awal bulan Agustus
(Minggu Pertama) di SD Negeri 2 Legokjawa Kelas III dengan jumlah siswa 22
siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar
mengajar mengacu pada rencana pelajaran yang telah dipersiapkan. Pengamatan
(observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar.
Pada
akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif I dengan tujuan untuk
mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah
dilakukan. Adapun data hasil penelitian pada siklus I adalah sebagai berikut:
Tabel
4.2. Hasil Tes Formatif Siswa Pada Siklus I
No. Urut
|
Nilai
|
Keterangan
|
No. Urut
|
Nilai
|
Keterangan
|
||||
T
|
TT
|
T
|
TT
|
||||||
1
|
60
|
|
√
|
12
|
60
|
|
√
|
||
2
|
70
|
√
|
|
13
|
80
|
√
|
|
||
3
|
70
|
√
|
|
14
|
70
|
√
|
|
||
4
|
60
|
|
√
|
15
|
80
|
√
|
|
||
5
|
80
|
√
|
|
16
|
70
|
√
|
|
||
6
|
80
|
√
|
|
17
|
90
|
√
|
|
||
7
|
70
|
√
|
|
18
|
60
|
|
√
|
||
8
|
70
|
√
|
|
19
|
60
|
|
√
|
||
9
|
60
|
|
√
|
20
|
70
|
√
|
|
||
10
|
80
|
√
|
|
21
|
70
|
√
|
|
||
11
|
50
|
|
√
|
22
|
60
|
|
√
|
||
Jumlah
|
750
|
7
|
4
|
Jumlah
|
770
|
8
|
3
|
||
Jumlah Skor 1520
Jumlah Skor Maksimal Ideal 2200
Rata-Rata Skor Tercapai 69,09
|
Keterangan: T :
Tuntas
TT :
Tidak Tuntas
Jumlah
siswa yang tuntas :
15
Jumlah
siswa yang belum tuntas : 7
Klasikal
:
Belum tuntas
Tabel
4.3. Rekapitulasi Hasil Tes Siklus I
No
|
Uraian
|
Hasil Siklus I
|
1
2
3
|
Nilai rata-rata tes formatif
Jumlah siswa yang tuntas belajar
Persentase ketuntasan belajar
|
69,09
15
68,18
|
Dari
tabel di atas dapat dijelaskan bahwa dengan menerapkan metode metode PQ4R
diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah 69,09 dan ketuntasan
belajar mencapai 68,18% atau ada 15 siswa
dari 22 siswa sudah tuntas belajar. Hasil tersebut menunjukkan bahwa
pada siklus pertama secara klasikal siswa belum tuntas belajar, karena siswa
yang memperoleh nilai ≥ 65 hanya sebesar 68,18% lebih kecil dari persentase
ketuntasan yang dikehendaki yaitu sebesar 85%. Hal ini disebabkan karena siswa
masih merasa baru dan belum mengerti apa yang dimaksudkan dan digunakan guru
dengan menerapkan metode metode PQ4R.
Siklus II
1. Tahap
Perencanaan
Pada
tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari
rencana pelajaran 2, LKS 2, soal tes formatif II, dan alat-alat pengajaran yang
mendukung.
2. Tahap
Pelaksanaan, Observasi, dan Refleksi
Pelaksanaan
kegiatan belajar mengajar untuk siklus II dilaksanakan pada Minggu ke II Bulan
Agustus di SD Negeri 2 Legokjawa dengan
jumlah siswa 22 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun
proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan memperhatikan
revisi pada siklus I, sehingga kesalahan atau kekurangan pada siklus I tidak
terulang lagi pada siklus II. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan
dengan pelaksanaan belajar mengajar.
Pada
akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif II dengan tujuan untuk
mengetahui tingkat keberhasilan siswa selama proses belajar mengajar yang telah
dilakukan. Instrument yang digunakan adalah tes formatif II. Adapun data hasil
penelitian pada siklus II adalah sebagai berikut.
Tabel 4.4. Hasil Tes Formatif Siswa Pada Siklus II
No. Urut
|
Nilai
|
Keterangan
|
No. Urut
|
Nilai
|
Keterangan
|
||
T
|
TT
|
T
|
TT
|
||||
1
|
60
|
|
√
|
12
|
90
|
√
|
|
2
|
80
|
√
|
|
13
|
80
|
√
|
|
3
|
80
|
√
|
|
14
|
80
|
√
|
|
4
|
90
|
√
|
|
15
|
80
|
√
|
|
5
|
90
|
√
|
|
16
|
80
|
√
|
|
6
|
60
|
|
√
|
17
|
60
|
|
√
|
7
|
80
|
√
|
|
18
|
80
|
√
|
|
8
|
70
|
√
|
|
19
|
70
|
√
|
|
9
|
60
|
|
√
|
20
|
60
|
|
√
|
10
|
80
|
√
|
|
21
|
80
|
√
|
|
11
|
90
|
√
|
|
22
|
80
|
√
|
|
Jumlah
|
840
|
8
|
3
|
Jumlah
|
840
|
9
|
2
|
Jumlah Skor 1680
Jumlah Skor Maksimal Ideal 2200
Rata-Rata Skor Tercapai 76,36
|
Keterangan: T :
Tuntas
TT :
Tidak Tuntas
Jumlah
siswa yang tuntas :
17
Jumlah
siswa yang belum tuntas : 5
Klasikal
:
Belum tuntas
Tabel
4.5. Rekapitulasi Hasil Tes Siklus II
No
|
Uraian
|
Hasil Siklus II
|
1
2
3
|
Nilai rata-rata tes formatif
Jumlah siswa yang tuntas belajar
Persentase ketuntasan belajar
|
76,36
17
77,27
|
Dari
tabel di atas diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah 76,36 dan
ketuntasan belajar mencapai 77,27% atau ada 17 siswa dari 22 siswa sudah tuntas
belajar. Hasil ini menunjukkan bahwa pada siklus II ini ketuntasan belajar
secara klasikal telah megalami peningkatan sedikit lebih baik dari siklus I.
Adanya peningkatan hasil belajar siswa ini karena setelah guru menginformasikan
bahwa setiap akhir pelajaran akan selalu diadakan tes sehingga pada pertemuan
berikutnya siswa lebih termotivasi untuk belajar. Selain itu siswa juga sudah
mulai mengerti apa yang dimaksudkan dan diinginkan guru dengan menerapkan
metode metode PQ4R.
Siklus III
1. Tahap
Perencanaan
Pada
tahap ini peneliti mempersiapkan perangkat pembelajaran yang terdiri dari
rencana pelajaran 3, LKS 3, soal tes formatif 3, dan alat-alat pengajaran yang
mendukung.
2. Tahap
Pelaksanaan, Observasi, dan Refleksi
Pelaksanaan
kegiatan belajar mengajar untuk siklus III dilaksanakan pada Minggu II Bulan
September 2009 di SD Negeri 2 Legokjawa dengan jumlah siswa 22 siswa. Dalam hal
ini peneliti bertindak sebagai guru. Adapun proses belajar mengajar mengacu
pada rencana pelajaran dengan memperhatikan revisi pada siklus II, sehingga kesalahan
atau kekurangan pada siklus II tidak terulang lagi pada siklus III. Pengamatan
(observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar.
Pada
akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif III dengan tujuan untuk
mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah
dilakukan. Instrumen yang digunakan adalah tes formatif III. Adapun data hasil
peneitian pada siklus III adalah sebagai berikut.
Tabel 4.6. Hasil Tes Formatif Siswa
Pada Siklus III
No. Urut
|
Nilai
|
Keterangan
|
No. Urut
|
Nilai
|
Keterangan
|
||
T
|
TT
|
T
|
TT
|
||||
1
|
90
|
√
|
|
12
|
90
|
√
|
|
2
|
90
|
√
|
|
13
|
90
|
√
|
|
3
|
90
|
√
|
|
14
|
90
|
√
|
|
4
|
80
|
√
|
|
15
|
60
|
|
√
|
5
|
90
|
√
|
|
16
|
90
|
√
|
|
6
|
80
|
√
|
|
17
|
80
|
√
|
|
7
|
90
|
√
|
|
18
|
70
|
√
|
|
8
|
60
|
|
√
|
19
|
70
|
√
|
|
9
|
90
|
√
|
|
20
|
80
|
√
|
|
10
|
90
|
√
|
|
21
|
90
|
√
|
|
11
|
60
|
|
√
|
22
|
80
|
√
|
|
Jumlah
|
910
|
9
|
2
|
Jumlah
|
890
|
10
|
1
|
Jumlah Skor 1800
Jumlah Skor Maksimal Ideal 2200
Rata-Rata Skor Tercapai 81,82
|
Keterangan: T :
Tuntas
TT :
Tidak Tuntas
Jumlah
siswa yang tuntas :
19
Jumlah
siswa yang belum tuntas :
Klasikal :
Tuntas
Tabel 4.7. Rekapitulasi Hasil Tes Siklus III
No
|
Uraian
|
Hasil Siklus III
|
1
2
3
|
Nilai rata-rata tes formatif
Jumlah siswa yang tuntas belajar
Persentase ketuntasan belajar
|
81,82
19
86,36
|
Berdasarkan
tabel di atas diperoleh nilai rata-rata tes formatif sebesar 81,82 dan dari 22
siswa yang telah tuntas sebanyak 19 siswa dan 3 siswa belum mencapai ketuntasan
belajar. Maka secara klasikal ketuntasan belajar yang telah tercapai sebesar
86,36% (termasuk kategori tuntas). Hasil
pada siklus III ini mengalami peningkatan lebih baik dari siklus II. Adanya
peningkatan hasil belajar pada siklus III ini dipengaruhi oleh adanya peningkatan
kemampuan guru dalam menerapkan metode PQ4R sehingga siswa menjadi lebih
terbiasa dengan pembelajaran seperti ini sehingga siswa lebih mudah dalam
memahami materi yang telah diberikan. Pada siklus III ini ketuntasan secara
klasikal telah tercapai, sehingga penelitian ini hanya sampai pada siklus III.
b. Pembahasan
Dari
data-data yang telah diperoleh dapat duraikan sebagai berikut.
1.
Selama
proses belajar mengajar guru telah melaksanakan semua pembelajaran dengan baik.
Meskipun ada beberapa aspek yang belum sempurna, tetapi persentase pelaksanaannya
untuk masing-masing aspek cukup besar.
2. Berdasarkan data hasil pengamatan
diketahui bahwa siswa aktif selama proses belajar berlangsung.
3. Kekurangan pada siklus-siklus
sebelumnya sudah mengalami perbaikan dan peningkatan sehingga menjadi lebih
baik.
4. Hasil belajar siswa pada siklus III
mencapai ketuntasan.
Pada
siklus III guru telah menerapkan metode PQ4R dengan baik dan dilihat dari
aktivitas siswa serta hasil belajar siswa pelaksanaan proses belajar mengajar
sudah berjalan dengan baik. Maka tidak diperlukan revisi terlalu banyak, tetapi
yang perlu diperhatikan untuk tindakan selanjutnya adalah memaksimalkan dan
mepertahankan apa yang telah ada dengan tujuan agar pada pelaksanaan proses
belajar mengajar selanjutnya penerapan metode PQ4R dapat meningkatkan proses
belajar mengajar sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.
1. Ketuntasan
Hasil Belajar Siswa
Melalui
hasil peneilitian ini menunjukkan bahwa metode PQ4R memiliki dampak positif
dalam meningkatkan prestasi belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari semakin
mantapnya pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan guru (ketuntasan
belajar meningkat dari sklus I, II, dan II) yaitu masing-masing 68,18%, 77,27%,
dan 86,36%. Pada siklus III ketuntasan belajar siswa secara klasikal telah
tercapai.
2. Kemampuan
Guru dalam Mengelola Pembelajaran
Berdasarkan
analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses metode PQ4R dalam setiap
siklus mengalami peningkatan. Hal ini berdampak positif terhadap prestasi
belajar siswa yaitu dapat ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa
pada setiap siklus yang terus mengalami peningkatan.
3.
Aktivitas Guru dan Siswa dalam
Pembelajaran
Berdasarkan
analisis data, diperoleh aktivitas siswa dalam proses pembelajaran PAI pada kompetensi
dasar Membaca Al-Qur’an yang paling dominan adalah bekerja dengan menggunakan
alat/media, mendengarkan/memperhatikan penjelasan guru, dan diskusi antar
siswa/antara siswa dengan guru. Jadi dapat dikatakan bahwa aktivitas siswa
dapat dikategorikan aktif.
Sedangkan
untuk aktivitas guru selama pembelajaran telah melaksanakan langah-langkah
metode PQ4R dengan baik. Hal ini terlihat dari aktivitas guru yang muncul di
antaranya aktivitas membimbing dan mengamati siswa dalam mengerjakan kegiatan
LKS/menemukan konsep, menjelaskan/melatih menggunakan alat, memberi umpan
balik/evaluasi/tanya jawab dimana prosentase untuk aktivitas di atas cukup
besar.
H. Simpulan
dan Saran
a. Simpulan
Dari
hasil kegiatan pembelajaran membaca Al-Qur’an dengan menggunakan metode PQ4R yang
telah dilakukan dalam tiga siklus, dan berdasarkan seluruh pembahasan serta
analisis akhirnya dapat diambil suatu simpulan sebagai berikut.
1.
Langkah-langkah
penggunaan metode PQ4R untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam membaca
Al-Qur’an, meliputi:
1)
Menyusun
rencana pelaksanaan pembelajaran dan melengkapi perangkat yang diperlukan guna
menunjang pelaksanaan pembelajaran yang diharapkan. Setiap komponen perencanaan
pembelajaran dirumuskan dengan jelas, agar memberi pedoman kepada guru ketika
mengelola KBM di kelas.
2)
Melaksanakan
pembelajaran sesuai dengan rencana. Artinya, guru dan siswa berusaha
berperilaku seperti yang telah ditentukan. Satu sama lain saling berusaha
secara maksimal untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
3)
Guru
dan siswa melakukan evaluasi sesuai dengan rencana dan menindaklanjuti hasilnya
dengan cara-cara yang efektif.
2.
Penggunaan
metode PQ4R terbukti dapat meningkatkan kemampuan siswa kelas III SD Negeri 2
Legokjawa dalam membaca Al-Quran. Dampak dari penggunaan metode PQ4R ditandai
dengan peningkatan ketuntasan belajar siswa dalam setiap siklus, yaitu siklus I
(68,18%), siklus II (77,27%), siklus III (86,36%).
b. Saran
Dari
hasil penelitian yang diperoleh dari uraian sebelumnya agar proses belajar
mengajar agama islam lebih efektif dan lebih memberikan hasil yang optimal bagi
siswa, maka disampaikan saran sebagai berikut.
- Untuk melaksanakan pembelajaran membaca Al-Quran dengan menggunakan metode PQ4R sangat diperlukan berbagai faktor penunjang, terutama kesiapan guru dan siswa. Oleh karena itu, miliki persiapan yang matang, agar setiap kendala dapat diselesaikan bersama.
- Penggunaan metode PQ4R dalam pembelajaran membaca Al-Qur’an juga perlu didukung dengan media yang tepat, seperti kesediaan sumber belajar yang lengkap dan menyukupi kebutuhan siswa.
- Evaluasi kemampuan siswa dalam membaca Al-Quran, sangat penting sebagai tolok ukur keberhasilan proses pembelajaran yang telah ditempuh. Dalam rangka itu, gunakan multi teknik yang tepat.
I. Daftar
Rujukan
Arikunto,
Suharsimi. 1997. Dasar-dasar Evaluasi
Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Berg,
Euwe Vd. (1991). Miskonsepsi agama islam
dan Remidi Salatiga: Universitas Kristen Satya Wacana.
Hamalik,
Oemar. 2002. Psikologi Belajar dan
Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindo.
Joyce,
Bruce dan Weil, Marsh. 1972. Models of
Teaching Model. Boston: A Liyn dan Bacon.
Masriyah.
1999. Analisis Butir Tes. Surabaya:
Universitas Press.
Mukhlis,
Abdul. (Ed). 2000. Penelitian Tindakan
Kelas. Makalah Panitia Pelatihan Penulisan Karya Ilmiah untuk Guru-guru
se-Kabupaten Tuban.
Nur,
Moh. 2001. Pemotivasian Siswa untuk
Belajar. Surabaya. University Press. Universitas Negeri Surabaya.
Soedjadi,
dkk. 2000. Pedoman Penulisan dan Ujian
Skripsi. Surabaya; Unesa Universitas Press.
Suryosubroto,
B. 1997. Proses Belajar Mengajar di
Sekolah. Jakarta: PT. Rineksa Cipta.
Usman,
Uzer. 2000. Menjadi Guru Profesional.
Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Widoko.
2002. Metode Pembelajaran Konsep.
Surabaya: Universitas Negeri Surabaya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar