A.
Judul

Peningkatan Kemampuan Menulis Huruf
Hijaiyah pada Siswa Kelas II SD Negeri 2 Legokjawa Melalui Penggunaan Teknik
Menulis Terbimbing
B. Penulis
Nama :
Eman Sudirman, S.Pd.I
Tempat Tugas :
SD Negeri 2 Legokjawa, Kec. Cimerak, Kab. Ciamis
No. Hp : 085321830808
C. Abstrak

Penggunaan teknik menulis
terbimbing diupayakan untuk meningkatkan kemampuan menulis huruf hijaiyah pada
siswa kelas II SD Negeri 2 Legokjawa, Kec. Cimerak, Kab. Ciamis Tahun Pelajaran
2011/2012. Sebelumnya, sebagian besar dari siswa di kelas ini dinilai kurang
mampu. Hal ini salah satunya disebabkan oleh pengelolaan pembelajaran tidak
menggunakan teknik yang tepat. Untuk mengatasi masalah ini digunakan teknik
menulis terbimbing. Upaya ini ditempuh melalui prosedur penelitian tindakan
kelas, yang dilaksanakan dalam tiga siklus, dengan langkah-lang: (1)
perencanaan tindakan, (2) pelaksanaan tindakan, (3) observasi dan evaluasi, dan
(4) refleksi. Seteleh upaya ini berlangsung, secara bertahap kemampuan siswa
meningkat, hingga pada siklus terakhir seluruh siswa dinyatakan mencapai nilai
di KKM yang telah ditetapkan. Untuk itu, dianjurkan agar ke depan teknik
didayagunakan dengan baik pada materi yang sama maupun berbeda.
D. Kata
Kunci: Peningkatan, Kemampuan, Menulis Huruf Hijaiyah, Siswa Kelas
II SD, Teknik Menulis Terbimbing
E. Pendahuluan
- Latar Belakang Masalah
Mampu dan
terampil menulis dengan baik dan benar menjadi salah satu tujuan pembelajaran
di sekolah, baik yang formal maupun informal. Salah satu yang diajarkan di Sekolah Dasar yaitu cara menulis
Al-Quran dan Hadits. Pembelajaran menulis ini dimulai pada sekolah tingkat
dasar, yakni Sekolah Dasar atau Madrasah Ibtidaiyah.
|
Menurut Fadlulah
(2008: 110), menjelaskan bahwa pada usia sekolah dasar, anak mengembangkan
keterampilan-keterampilan dasar: membaca, menulis, dan berhitung sebagai dasar
penalaran untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Pengembangan kemampuan baca-tulis
dan berhitung itu dilakukan secara terintegrasi
dengan pemecahan masalah sehari-hari.
Al-Quran dan
Hadits sebagai sumber utama ajaran Islam yang harus dipelajari, dihayati, dan
diamalkan. Salah satu proses yang dapat dilakukan adalah dengan jalan
mempelajari tulisan ayat-ayat Al-Quran dan Hadits. Oleh karena itu, pembelajaran menulis Al-Quran dan
Hadits sangat penting diberikan kepada anak-anak, terutama di Sekolah Dasar. Dengan menulis,
anak dapat membaca kembali huruf-huruf yang ditulisnya. Selain itu, anak akan
lebih cepat dan tahan lama untuk mengingatnya. Kondisi ini pada gilirannya akan
memudahkan anak untuk menghayati dan mengamalkan isi kandungan Al-Quran dan
Hadits. Terlebih lagi jika anak telah mampu untuk menerjemahkannya.
Allah SWT berfirman
dalam surah Al-‘Alaq ayat 1-5 yang menjelaskan pentingnya belajar menulis:
اِقْرَأْبِاسْمِ
رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَ.
خَلَقَ اْلاِنْسَانَ مِنْ
عَلَقِ.
اِقْرَأْ وَرَبُّكَ
اْلاَكْرَمُ.
الَّذِيْ عَلَّمَ
بِاْلقَلَمِ.
عَلَّمَ
اْلاِنْسَانَ مَالَمْ يَعْلَمْ
Artinya:
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhan-mu
yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah,
dan Tuhan-mulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan
kalam. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya”. (Depag RI,
2005: 598).
SD Negeri 2 Legokjawa, Kecamatan
Cimerak, Kabupaten Ciamis merupakan salah satu sekolah yang cukup pavorit di
kalangan orang tua untuk menyekolahkan anaknya di sisni. Akan sangat
disayangkan, jika ditemukan anak tidak mampu dalam menulis huruf hijaiyah yang
menjadi salah satu tujuan pembelajaran pada mata pelajaran PAI.
Berdasarkan hasil refleksi awal menunjukkan rata-rata
anak kelas II SD Negeri 2 Legokjawa masih terkategori kurang mampu dalam
menulis huruf hijaiyah dengan baik dan benar. Selama proses pembelajaran
menulis huruf hijaiyah sedang berlangsung, siswa tampak banyak mendapat
kesulitan, yang disebabkan oleh kurang terbimbing dalam memenuhi setiap
tuntutan. Pengelolaan proses pembelajaran seperti ini dirasakan telah gagal
mengantarkan seluruh siswa pada tujuan yang diinginkan.
Untuk memperbaiki proses pengelolaan
pembelajaran yang telah lalu itu, menjadi tanggung jawab penulis sepenuhnya.
Upaya yang ditempuh dalam rangka itu mengikuti alur perbaikan pembelajaran
berdasarkan tuntutan metode penelitian tindakan kelas. Atas dasar itu yang
telah mendorong diadakannya ini yang berfokus pada pokok persoalan di atas.
b. Identifikasi
Masalah
Dari uraian latar belakang di atas, diperoleh
gambaran adanya masalah sebagai berikut.
- Sebagian besar siswa kelas II SD Negeri 2 Legokjawa, kurang mampu menulis huruf hijaiyah dengan baik dan benar.
- Pengelolaan proses pembelajaran menulis huruf hijaiyah yang telah dilakukan guru, dinilai telah gagal.
- Perlu perbaikan segera dalam pengelolaan proses pembelajaran menulis hijaiyah menuntut kepada guru agar ada upaya stratgis.
c. Cara
Pemecahan Masalah
Untuk mengatasi masalah seperti pada identifikasi masalah
di atas, upaya yang ditempuh adalah mengelola proses pembelajaran menulis huruf
hijaiyah berdasarkan langkah-langkah teknik menulis terbimbing. Penggunaan
teknik tersebut harus direncanakan dengan baik. Hal ini tentunya agar
pelaksanaan pembelajaran dapat berlangsung sebagaimana yang diharapkan.
d. Rumusan
Masalah
Bertolak dari masalah dan cara pemecahan yang diupayakan,
apa yang menjadi pokok masalah yang perlu ditindaklanjuti melalui penelitian
ini dapat dirumuskan sebagai berikut.
- Bagaimana langkah-langkah menggunakan teknik menulis terbimbing agar dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis huruf hijaiyah?
- Apakah kemampuan siswa dalam menulis huruf hijaiyah meningkat setelah digunakan teknik menulis terbimbing?
e. Tujuan
Penelitian
Tujuan penelitian ini, meliputi:
- Untuk memperbaiki kinerja guru dan siswa dalam pembelajaran menulis huruf hijaiyah;
- Untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis huruf hijaiyah;
- Untuk mengetahui langkah-langkah penggunaan teknik menulis terbimbing dalam meningkatkan kemampuan munulis huruf hijaiyah pada siswa.
- Untuk mengetahui peningkatan kemampuan siswa dalam menulis huruf hijaiyah setelah digunakan teknik menulis terbimbing.
f. Manfaat
Penelitian
Manfaat penelitian ini diharapkan:
1.
Dapat
menambah pengetahuan dan memberi pengalaman kepada guru dalam mengelola proses
pembelajaran menulis huruf hijaiyah berdasarkan ketentuan teknik menulis
terbimbing.
2.
Dapat
menambah pengetahuan dan memberikan pengalaman berharga kepada siswa ketika
dirinya terlibat secara aktif dalam pembelajaran menulis huruf hijaiyah
berdasarkan langkah-langkah teknik menulis terbimbing.
3.
Dapat
memberikan tolok ukur dan atau informasi penting bagi kepala sekolah dan guru
mengenai kualitas pengelolaan proses pembelajaran yang telah berlangsung.
g. Kajian
Teori dan Hipotesis Tindakan
1. Kajian
Teori
a) Pengertian
Menulis Huruf Hijaiyah
Huruf hijaiyah adalah kumpulan huruf
Arab yang terdapat dalam ayat Al-Quran. Sehingga yang dimaksud dengan menulis
huruf hijaiyah adalah menulis huruf hijaiyah atau huruf Arab yang sesuai dengan
kaidah-kaidah yang berlaku atau sesuai dengan teks aslinya (teks Al-Quran).
|
Pembelajaran menulis huruf hijaiyah
sangat penting diberikan kepada anak-anak, terutama di Sekolah Dasar. Dengan
menulis, anak dapat membaca kembali huruf-huruf yang ditulisnya. Selain itu,
anak akan lebih cepat dan tahan lama untuk mengingatnya. Kondisi ini pada
gilirannya akan memudahkan anak untuk menghayati dan mengamalkan isi kandungan
Al-Quran dan Hadits. Terlebih lagi jika anak telah mampu untuk
menerjemahkannya.
Ketika menulis huruf hijaiyah atau
huruf Arab secara tunggal (terpisah) maupun bersambung, maka bentuk setiap
huruf yang ditulis akan berbeda cara menuliskannya dari satu huruf dengan huruf
lainnya. Ada huruf yang bentuknya sama, yang membedakannya adalah pada jumlah
titik. Sama seperti membentuk huruf latin a akan berbeda hurufnya dengan huruf
b. Oleh karena itu, diperlukan suatu latihan yang sungguh-sungguh dalam belajar
menulis huruf ini sehingga memiliki suatu kemampuan dalam menuliskannya.
Menurut Wahyudi (2004:14), kompetensi
yang harus dimiliki oleh siswa dalam pembelajaran menulis al-Quran, antara
lain:
1) Kemampuan menulis huruf tunggal ;
kemampuan dalam menulis huruf hijaiyah satu persatu dari huruf “Alif “ hingga “Ya”.
2) Kemampuan merangkai huruf dalam
kalimat; kemampuan merangkai huruf tunggal. Kemampuan merangkai ini akan
terlihat dari kemampuan membedakan mana huruf yang bisa disambung dan mana
huruf yang tidak bisa disambung, serta bagaimana perubahan-perubahan yang akan
terjadi ketika dalam proses merangkai tersebut.
3) Kemampuan dalam menerapkan tanda baca
dalam menulis Al-Quran; kemampuan dalam member harakat, baik itu fathah,
kasrah, dhamah maupun sukun serta panjang dan pendek.
b) Teknik
Menulis Terbimbing dalam Menulis Huruf Hijaiyah
Sama
dengan menulis interaktif (interactive writing), menulis terbimbing (guided
writing) ini menyajikan bimbingan secara langsung. Tompkins (2008:27)
berkata, “Teacher scaffold or support children’s writing during guided
writing, ….” Sebelum dan selama proses menulis dilakukan siswa, guru
memberikan penjelasan-penjelasan tentang aspek-aspek terkait pada proses
menulis yang bersangkutan.
Kaitannya
dengan pembelajaran menulis huruf hijaiyah, pada menulis terbimbing ini, guru
membuat rencana kegiatan menulis terstruktur tentang huruf hijaiyah. Kegiatan
terstruktur tersebut berupa urutan atau tahapan kegiatan menulis huruf hijaiyah
yang baik dan benar. Konsep dan cara melakukan setiap tahapan tersebut
dijelaskan guru. Selanjutnya, siswa menulis huruf hijaiyah sesuai dengan
struktur kerja yang direncanakan dan dijelaskan guru. Pada saat siswa menulis huruf
hijaiyah, guru mengawasi kegiatan siswa tersebut. Berkenaan dengan hal itu,
Tompkins (2008:27) berkata, “The teacher plan structured writing activities
and then supervise as children do the writing.”
Dengan
model ini, diharapkan siswa mendapatkan pemahaman dan pengalaman tentang
bagaimana proses menulis huruf hijaiyah itu. Dalam model ini, pemberian
bimbingan jelas sekali diberikan guru kepada siswa dalam bentuk rancangan
kegiatan terstruktur dan penjelasannya. Dari hal tersebut, diharapkan siswa
memahami proses penulisan huruf hijaiyah secara tepat. Dalam model ini, juga
terlihat ada pemberian pengalaman menulis huruf hijaiyah dengan pengawasan
guru.
Tompkins
(2008:28) mengatakan bahwa menulis terbimbing (guided writing) ini cocok
untuk maksud:
1.
merancah pengalaman menulis bagi
siswa;
2.
mengenalkan tipe atau cara tertentu
yang berbeda dalam kegiatan menulis;
3.
membelajarkan siswa dalam proses
menulis.
Penggunaan teknik menulis terbimbing dalam pembelajaran menulis
huruf hijaiyah akan memberi dampak
positif kepada siswa, baik
terhadap proses maupun hasil belajarnya. Begitu pun bagi guru, lebih kurangnya
ia akan merasa terdorong untuk menjadi model yang baik dalam memenuhi setiap
tuntutan dan arah pembelajaran yang akan dikelolanya tidak sulit untuk
ditempuh. Pernyataan ini didukung oleh pendapat Uno (2009: 49), yang dikutip
berikut.
Setiap teknik pembelajaran yang ditempuh secara
profesional, akan memberi dampak kebaikan kepada guru dan siswa. Kebaikan bagi
guru, tidak sedikit, termasuk di dalamnya memudahkan ia pada saat merencanakan,
melaksanakan, mengevaluasi, dan menindaklanjuti hasil kegiatan belajar
mengajar. Siswa pun tidak jauh berbeda dengan guru, termasuk di dalamnya
aktivitas belajar menjadi lebih bermakna dan hasil belajarnya paling tidak
mendekati harapan.
Nilai kebaikan
teknik menulis terbimbing bagi guru dan
siswa dapat diungkap dari pendapat Sapani (2009: 84), yaitu “Teknik menulis terbimbing akan mengaktifkan guru dan
siswa selama dalam proses kegiatan belajar mengajar. Guru bertugas membimbing
siswa ke arah yang diinginkan dalam kegiatan pembelajaran menulis”. Lebih lanjut
dikemukakan “Dampak dari bimbingan yang terarah ini, proses belajar siswa dalam
memenuhi setiap tuntutan pembelajaran menulis menjadi lebih mudah karena ada
yang membimbingnya ke arah yang benar, dan pada akhirnya hasil belajar menjadi
lebih baik” (Sapani, 2009: 85).
Selain itu,
dari ahli lain diperoleh suatu pandangan bahwa “Teknik menulis terbimbing
adalah upaya penyajian materi ajar menulis yang dilakukan guru kepada siswa
dengan cara membimbing siswa ke arah proses dan hasil menulis yang diharapkan.
Melalui upaya ini, siswa akan lebih mudah menyerap isi pesan yang disampaikan
sebagai materi ajar menulis yang harus dikuasainya setelah proses pembelajaran
berlangsung ” (Pringgawidagda, 2006: 103).
Bertolak dari
pandangan para ahli di atas, diperoleh gambaran tentang penyajian materi ajar
menulis kepada siswa berdasarkan langkah-langkah strategis teknik menulis
terbimbing. Teknik menulis terbimbing adalah upaya penyajian materi ajar yang
dilakukan guru dengan cara membibing siswa selama proses menulis yang
diinginkan sedang berlangsung. Tugas siswa selain aktif menerapkan
langkah-langkah tersebut, juga harus kreatif dalam menghasilkan sebuah tulisan
yang diharapkan. Oleh karena itu, setiap langkah-langkah strategis yang
dianjurkan guru hendaknya dipelajari dengan seksama dan kemudian berusaha untuk
menerapkannya sesuai dengan prosedur.
F. Metodologi
Penelitian
- Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan (action research), karena penelitian
dilakukan untuk memecahkan masalah pembelajaran di kelas. Penelitian ini juga
termasuk penelitian deskriptif, sebab menggambarkan bagaimana suatu teknik
pembelajaran diterapkan dan bagaimana hasil yang diinginkan dapat dicapai.
Penelitian ini akan dihentikan apabila ketuntasan belajar
secara kalasikal telah mencapai 85% atau lebih. Jadi dalam penelitian ini,
peneliti tidak tergantung pada jumlah siklus yang harus dilalui.
b. Tempat,
Waktu, dan Subjek Penelitian
1. Tempat
Penelitian
Tempat penelitian adalah tempat yang
digunakan dalam melakukan penelitian untuk memperoleh data yang diinginkan.
Penelitian ini bertempat di SD Negeri 2 Legokjawa, Kecamatan Cimerak, Kabupaten
Ciamis Tahun Pelajaran 2011/2012.
2. Waktu
Penelitian
Waktu penelitian adalah waktu
berlangsungnya penelitian atau saat penelitian ini dilangsungkan. Penelitian
ini dilaksanakan pada Minggu I bulan Agustus semester gasal 2011/2012.
3. Subjek
Penelitian
Subjek penelitian adalah siswa-siswi
Kelas II SD Negeri 2 Legokjawa, Kecamatan Cimerak, Kabupaten Ciamis Tahun
Pelajaran 2011/2012.
c.
Desain
Penelitian
Desain dalam penelitian tindakan kelas disebut juga pola atau model yang
diikuti peneliti sebagai langkah konkret merencanakan, melaksanakan,
mengobservasi, dan merefleksi tindakan setiap siklus yang telah berlangsung
(Kunandar, 2008: 84).
d.
Teknik
dan Instrumen Pengumpulan Data
Teknik dan instrumen pengumpulan data dalam suatu penelitian tindakan
kelas perlu ditentukan dengan teliti. Menurut Kunandar (2008: 274) “Teknik
pengumpulan data dalam penelitian tindakan kelas biasanya meliputi observasi,
tes, wawancara, dan diskusi.” Teknik-teknik tersebut digunakan pula dalam
mengumpulkan data penelitian tindakan kelas ini. Deskripsi teknik tersebut,
sebagai berikut.
1. Tes
digunakan untuk memperoleh data tentang kemampuan siswa dalam menulis huruf
hijaiyah.
2. Observasi
digunakan untuk memperoleh data tentang aktivitas guru dan siswa dalam KBM menulis
huruf hijaiyah dengan menggunakan teknik menulis terbimbing.
3. Wawancara
digunakan untuk memperoleh data tentang hal-hal yang dirasakan guru dan siswa
selama dalam KBM menulis huruf hijaiyah dengan menggunakan teknik menulis
terbimbing.
4. Diskusi
digunakan untuk merepleksi hasil siklus PTK menulis huruf hijaiyah dengan
menggunakan teknik menulis terbimbing.
Untuk setiap
teknik pengumpulan data di atas digunakan instrumen yang sesuai dengan teknik
tersebut.
1. Lembar soal dan lembar jawaban digunakan untuk instrumen teknik tes.
Pada lembar soal terdapat pertanyaan yang digunakan untuk mengukur kemampuan
siswa dalam menulis huruf hijaiyah secara tunggal dan menulis huruf hijaiyah
bersambung.
2. Lembar observasi digunakan untuk instrumen teknik observasi. Pada
lembar observasi terdapat hal-hal yang diobservasi terkait dengan aktivitas
guru dan siswa dalam KBM menulis huruf hijaiyah dengan menggunakan teknik
menulis terbimbing.
3. Lembar wawancara digunakan untuk teknik wawancara. Pada instrumen ini
terdapat hal-hal yang perlu ditanyakan kepada guru dan siswa sehubungan apa yang mereka rasakan
selama KBM menulis huruf hijaiyah dengan menggunakan teknik menulis terbimbing.
4. Lembar diskusi digunakan untuk teknik diskusi. Pada instrumen ini
terdapat hal-hal yang harus didiskusikan, baik yang diperoleh melalui tes,
observasi, maupun wawancara.
e. Teknik Analisis Data
Data yang dikumpulkan melalui teknik dan instrumen pengumpulan data
dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan teknik persentase untuk melihat
kecenderungan yang terjadi dalam KBM menulis huruf hijaiyah dengan menggunakan teknik
menulis terbimbing. Lebih jelasnya mengenai data yang akan dianalisis tersebut,
sebagai berikut.
1. Data langkah-langkah peningkatan kemampuan siswa
dalam menulis huruf hijaiyah berdasarkan prosedur pembelajaran teknik menulis
terbimbing, baik yang diperoleh melalui observasi, wawancara, dan tes
dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan teknik persentase. Kemudian
hasilnya dikategorikan dalam klasifikasi berikut.
1) Aktivitas siswa selama KBM menulis huruf hijaiyah
dengan menggunakan teknik menulis terbimbing, hasil analisisnya dikategorikan
dalam klasifikasi tinggi, sedang, dan rendah.
2) Aktivitas guru selama selama KBM menulis huruf hijaiyah dengan
menggunakan teknik menulis terbimbing, hasil analisisnya dikategorikan dalam
klasifikasi tinggi, sedang, dan rendah.
3) Efektivitas teknik menulis terbimbing dalam KBM menulis huruf hijaiyah dianalisis secara
deskriptif, dan hasilnya dikategorikan dalam klasifikasi berhasil, kurang berhasil,
dan tidak berhasil.
2. Peningkatan kemampuan siswa kelas II SD Negeri 2 Legokjawa, Kecamatan Cimerak,
Kabupaten Ciamis dalam menulis huruf
hijaiyah setelah mengikuti prosedur pembelajaran teknik menulis terbimbing yang
diperoleh melalui tes dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan teknik
persentase. Kemudian hasilnya dikategorikan dalam klasifikasi tinggi, sedang, dan rendah.
G.
Hasil Penelitian dan Pembahasan
Siklus I
1) Perencanaan Tindakan
Pada tahap perencanaan tindakan
siklus I, menempuh langkah-langkah sebagai berikut.
(1) Tim peneliti melakukan analisis kurikulum untuk mengetahui kompetensi
dasar yang akan disampaikan kepada siswa melalui teknik menulis terbimbing.
(2) Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran menulis huruf hijaiyah yang
akan disajikan dengan menggunakan teknik menulis terbimbing.
(3)
Membuat lembar kerja siswa.
(4) Menyusun alat
evaluasi pembelajaran.
(5) Membuat instrumen yang digunakan dalam PTK siklus I, antara lain:
·
lembar observasi
untuk perencanaan pembelajaran;
·
lembar observasi
untuk aktivitas guru dan siswa dalam melaksanakan pembelajaran;
·
lembar wawancara
untuk guru dan siswa serta teman sejawat.
2)
Pelaksanaan Tindakan
(1) Kegiatan
Awal
Kegiatan
awal, berlangsung selama 15 menit. Mengawali kegiatan pembelajaran menulis
huruf hijaiyah, guru mengadakan apersepsi dengan cara mengingatkan siswa pada
materi ajar yang telah dipelajari sebelumnya. Untuk mengetahui daya ingat siswa
terhadap materi ajar tersebut, guru mengajukan pertanyaan berikut “Siapakah, di
antara kalian yang masih mengingat bahan pembelajaran menulis huruf hijaiyah?”.
Salah seorang siswa yang duduk di bangku paling depan mengangkatkan tangan,
tandanya ia ingin memberikan jawaban. Silakan Sri, kata Pa guru. Sri memberi
jawaban sebagai berikut “Huruf dasar. Bahasa yang digunakan, sangat singkat
tetapi jelas, dalam arti mudah dimengerti oleh penerima pesan“. Benar sekali
jawabanmu, Sri. Pa guru menyerukan kepada seluruh siswa agar memberikan tepuk
tangan sebagai tanda penghargaan kepada Sri dan juga untuk memotivasi seluruh
siswa di kelas itu.
Selesai
kegiatan apersepsi, guru menjelaskan tujuan yang harus dicapai dan cara untuk
mencapainya. Pusat perhatian seluruh siswa tertuju pada penjelasan guru.
Mengakhiri kegiatan awal, guru memotivasi siswa dengan pesan-pesan berikut
“Siapa saja yang belajar dengan giat dan sungguh-sungguh, ia akan berhasil
mencapai tujuan. Oleh karena itu, marilah kita belajar meresfon seruan dari
ungkapan ini dengan sebaik-baiknya”.
(2) Kegiatan
Inti
Pelaksanaan
kegiatan inti, berlangsung selama 35 menit. Mengawali kegiatan inti, guru
membentuk beberapa kelompok kecil yang terdiri atas 4 orang siswa dan memberi
nama setiap kelompok disertai penetapan siswa yang akan bertindak sebagai tutor
dalam kelompok belajar yang telah dibentuk. Usai kegiatan ini, guru memberikan
lembar kerja yang di dalamnya terdapat contoh atau pemetaan pesan singkat yang
ditandai dengan beberapa nomor. Hal ini sengaja dilakukan guru agar siswa
belajar mengonstruksi bagian-bagian pesan singkat.
Tampak, seluruh perhatian siswa pada
contoh tersebut. Dalam pada itu, siswa mendapat instruksi dari guru agar
menentukan nomor-nomor tersebut berarti apa dalam struktur penulisan huruf
hijaiyah secara tunggal dan bersambung. Upaya ini cukup berhasil membangun
pemahaman awal siswa terhadap teknik menulis huruf hijaiyah secara tunggal dan
bersambung.
Selain itu, dapat dinyatakan pula
bahwa siswa sedang belajar memecahkan masalah sebagai tahap awal dalam proses
eksplorasi.
Kepada seluruh siswa, guru memberi
kesempatan untuk bertanya atau saling bertanya jawab (tahap konsolidasi).
Selesai kegiatan mengonstruksi,
eksplorasi, konsolidasi, dan elaborasi, guru memerlihatkan contoh-contoh penulisan
huruf hijaiyah secara tunggal dan bersambung. Proses belajar siswa dari
contoh-contoh tersebut cukup menambah pemahamannya terhadap teknik penulisan
huruf hijaiyah secara tunggal dan bersambung. Hal ini terbukti pada saat siswa
dituntut untuk merefleksi setiap huruf hijaiyah yang ditulisnya. Dengan
demikian, secara tidak langsung sebenarnya siswa sedang dalam konteks penilaian
yang sebenarnya (authentic assessment).
(3) Kegiatan
Akhir
Tiba dipenghujung akhir pembelajaran menulis
huruf hijaiyah, guru dan siswa bersinergi menempuh langkah-langkah berikut.
Guru dan siswa menyimpulkan materi ajar yang baru saja dipelajari. Untuk lebih
memahamkan siswa pada materi ajar tersebut, guru memberikan bahan penugasan
untuk diselesaikan secara individu, di rumah. Kegiatan-kegiatan tersebut
berlangsung selama 10 menit. Waktu yang tersisa dari keseluruhan, lebih kurang
20 menit. Sisa waktu ini digunakan guru untuk mengevaluasi kemampuan
siswa. Evaluasi pun berlangsung dengan
tertib, tentunya ini karena adanya pengawasan secara ketat dari guru.
Mengakhiri kegiatan pembelajaran menulis huruf hijaiyah pada siklus I, guru dan
siswa menutupnya dengan do’a.
Ada beberapa catatan penting
sehubungan dengan aktivitas guru dan siswa dalam pelaksanaan tindakan siklus I
yang diperoleh melalui pengamatan penulis dan teman sejawat guru pelaksana
tindakan. Inti catatan dimaksud menunjukkan pelaksanaan tindakan siklus I belum
sesuai dengan rencana. Hal ini disebabkan oleh beberapa alasan berikut.
·
Sebagian
kelompok belum terbiasa dengan kondisi belajar berdasarkan teknik menulis
terbimbing.
·
Sebagian
kelompok belum memahami langkah-langkah teknik menulis terbimbing, secara utuh
dan menyeluruh.
·
Untuk
mengatasi masalah di atas dilakukan upaya sebagai berikut:
·
guru
dengan intensif memberi pengertian kepada siswa kondisi dalam berkelompok,
kerjasama kelompok, keikutsertaan siswa dalam kelompok;
·
guru
membantu kelompok yang belum memahami langkah-langkah teknik menulis terbimbing.
Setelah diupayakan langkah-langkah
tersebut siswa mulai terbiasa dengan kondisi belajar berdasarkan
langkah-langkah teknik menulis terbimbing, dan siswa mampu menyimpulkan
bahwa pembelajaran menulis huruf
hijaiyah dengan menggunakan teknik menulis terbimbing memiliki langkah-langkah
tertentu.
3) Observasi
dan Evaluasi
Hasil observasi dan evaluasi
pembelajaran menulis huruf hijaiyah dengan menggunakan teknik menulis
terbimbing pada siklus I diperoleh gambaran sebagai berikut.
(1)
Hasil observasi aktivitas siswa dalam PBM
selama siklus I dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 1
Perolehan Skor Aktivitas Siswa dalam PBM Siklus I
Kelompok
|
Skor
Perolehan
|
Skor Ideal
|
%
|
Keterangan
|
Diponegoro
|
11
|
16
|
69
|
|
Hasanudin
|
12
|
16
|
75
|
|
Imam Bonjol
|
14
|
16
|
88
|
Tertinggi
|
Patimura
|
10
|
16
|
63
|
|
Cut Nya Dien
|
8
|
16
|
50
|
Terendah
|
Teuku Umar
|
10
|
16
|
63
|
|
Kartini
|
11
|
16
|
69
|
|
Dewi Sartika
|
12
|
16
|
75
|
|
Rerata
|
11
|
16
|
69
|
|
(2)
Hasil observasi siklus I tentang aktivitas
guru dalam PBM pada siklus I masih tergolong rendah dengan perolehan skor 27
atau 61,36%, sedangkan skor idealnya adalah 44. Hal ini terjadi karena guru
lebih banyak berdiri di depan kelas dan kurang memberikan pengarahan kepada
siswa bagaimana menulis huruf hijaiyah secara tunggal dan bersambung.
(3)
Selain aktivitas guru dalam PBM, penguasaan
siswa terhadap materi pembelajaran pun masih tergolong kurang. Dari skor ideal
100, skor perolehan rata-rata hanya mencapai 62 atau 62%.
Grafik
1
Perolehan Skor Aktivitas Siswa dalam PBM Siklus I

4)
Refleksi dan
Perencanaan Ulang
Kegiatan refleksi terhadap keberhasilan
dan kegagalan yang terjadi pada pembelajaran menulis huruf hijaiyah dengan
menggunakan teknik menulis terbimbing pada siklus I,
sangat penting, dan ini akan menjadi masukan dalam menyusun perencanaan ulang
untuk pelaksanaan tindakan siklus II. Adapun keberhasilan dan kegagalan yang
terjadi pada tindakan siklus I, sebagai berikut.
(1)
Guru belum terbiasa menyiptakan suasana
pembelajaran menulis huruf hijaiyah dengan menggunakan teknik menulis
terbimbing. Hal ini diperoleh dari hasil observasi terhadap aktivitas guru
dalam PBM hanya mencapai 61,36%.
(2)
Sebagian siswa belum terbiasa dengan kondisi
belajar berdasarkan langkah-langkah teknik menulis terbimbing. Meski demikian,
mereka merasa senang dan antusias dalam belajar. Hal ini bisa dilihat dari
hasil observasi terhadap aktivitas siswa dalam PBM hanya mencapai 69%.
(3)
Hasil evaluasi pada
tindakan siklus I mencapai rata-rata nilai 6,20.
(4)
Masih ada kelompok
yang belum bisa menyelesaikan tugas dalam waktu yang telah ditentukan. Hal ini karena anggota kelompok tersebut kurang serius dalam belajar.
(5)
Masih ada kelompok
yang kurang mampu dalam mempresentasikan hasil kegiatan kelompok.
(6)
Guru yang bertindak
sebagai tutor dalam kelompok belajar, tampak belum berfungsi sebagaimana
mestinya.
Untuk memperbaiki kelemahan dan
mempertahankan keberhasilan yang telah dicapai pada tindakan siklus I, maka
pada pelaksanaan siklus II dapat dBapakat perencanaan sebagai berikut.
(1)
Memberikan motivasi kepada kelompok agar
lebih aktif lagi dalam merespon tuntutan pembelajaran.
(2)
Lebih intensif membimbing kelompok yang
mengalami kesulitan.
(3)
Memperjelas tugas tutor di dalam kelompok
belajarnya.
(4)
Memberi pengakuan atau penghargaan (reward).
Siklus II
1)
Perencanaan Tindakan
Perencanaan tindakan siklus II
didasarkan pada hasil refleksi tindakan siklus I. Langkah-langkah yang ditempuh
oleh tim peniliti pada tahap ini, sebagai berikut.
(1) Membuat rencana pelaksanaan pembelajaran menulis huruf hijaiyah yang
akan disajikan dengan menggunakan teknik menulis terbimbing.
(2) Membuat
lembar kerja siswa.
(3) Menyusun alat
evaluasi pembelajaran.
(4) Membuat instrumen yang digunakan dalam PTK siklus II, antara lain:
·
lembar observasi
untuk perencanaan pembelajaran;
·
lembar observasi
untuk aktivitas guru dan siswa dalam melaksanakan pembelajaran;
·
lembar wawancara
untuk guru dan siswa serta teman sejawat.
2)
Pelaksanaan
Tindakan
(1) Kegiatan
Awal
Aktivitas
guru dan siswa dalam kegiatan awal berlangsung selama 17 menit. Guru mengawali
kegiatan pembelajaran dengan cara mengajak siswa untuk mengingat kembali materi
ajar yang telah dipelajarinya pada tindakan siklus I. Seluruh siswa tampak
memenuhi ajakan guru. Bahkan, ada beberapa orang siswa yang berkomunikasi
langsung dengan guru. Oleh karena itu, guru memberikan pujian yang baik kepada
mereka.
Setelah
mengadakan apersepsi, guru menjelaskan tujuan yang harus dicapai oleh siswa dan
cara belajar untuk mencapainya. Adapun ilustrasi penyampaian guru kepada siswa,
seperti dikutip berikut “Anak-anak pada hari ini kalian memasuki pembelajaran menulis
huruf hijaiyah siklus II. Bapak berharap kepada kalian, semoga berhasil
mencapai tujuan tujuan. Agar berhasil mencapainya, kalian harus
bersungguh-sungguh dalam mengikuti tahapan belajar yang dianjurkan. Sebelum
itu, Bapak ingin bertanya kepada kalian “sanggupkah untuk itu?” Seluruh siswa
menjawab “sanggup Pak”. Tanpa membuang waktu, guru menginstruksikan kepada
seluruh siswa supaya segera membentuk kelompok belajar seperti pada
pembelajaran yang telah lalu (siklus I). Dalam waktu lebih kurang 5 menit,
kelompok belajar yang diharapkan sudah terbentuk. Di bawah komando guru,
seluruh siswa berdoa dengan khusu. Selesai berdoa, guru menutup kegiatan awal
dengan satu pesan berikut “Siapa yang bersungguh-sungguh dalam belajar, cepat
atau lambat akan menjadi pintar”.
Seluruh siswa tampak dapat memahami benar ungkapan bijak ini.
(2) Kegiatan
Inti
Mengawali kegiatan inti, guru menebar pandangan kepada
seluruh siswa. Setelah merasa yakin bahwa para siswanya berkonsentrsi ke depan,
barulah menjelaskan materi ajar, yang meliputi arti huruf hijaiyah, dan teknik menulis
huruf hijaiyah tugal maupun bersambung disertai contoh. Dalam pada itu,
tampak siswa berusaha memahaminya dengan seksama. Upaya ini berhasil membangun
pemahaman awal seluruh siswa. Ini yang
dimaksud dengan tahap mengonstruksi (eksplorasi) pada tahap awal pembelajaran menulis
huruf hijaiyah dengan menggunakan teknik menulis terbimbing. Siswa belajar
mengonstruksi (mengeksplorasi) materi ajar secara bertahap, yaitu mulai dari
hal yang sederhana (menulis
huruf hijaiyah secara tunggal) menuju ke hal yang kompleks dan rumit (menulis huruf hijaiyah bersambung).
Selesai kegiatan mengonstruksi, guru memberikan bahan
elaborasi dan kolaborasi. Bahan elaborasi yang diberikan kepada siswa berkaitan
dengan kesalahan dalam contoh menulis
huruf hijaiyah secara tunggal dan bersambung, sedangkan bahan
kolaborasinya membenahi kesalahan berdasarkan pandangan kelompok, sesuai dengan ketentuan
(elaborasi dan kolaborasi). Materi ajar ini terdapat pada lembar kerja yang
dibagikan guru kepada setiap kelompok. Saat elaborasi dan kolaborasi sedang
berlangsung, tutor dalam setiap kelompok menyaring hasil belajar masing-masing
dan kemudian ia menjelaskan porolehannya ini kepada anggota kelompok. Tanpa
harus menunggu lama jawaban dari siswa pada masing-masing kelompok belajar,
guru segera menjelaskan tata cara memenuhi tuntutan tersebut disertai contoh
yang lengkap. Upaya ini berdampak pada peningkatan pemahaman siswa dalam
memenuhi setiap tuntutan pembelajaran. Setelah dianggap cukup, guru menyilakan
kepada siswa untuk belajar memenuhi setiap tuntutan tersebut. Seluruh siswa
kelihatan serius menghadapi tuntutan demi tuntutan tadi. Setelah dianggap
cukup, guru menginstruksikan kepada siswa
agar masing-masing kelompok mengumpulkan hasil pekerjaan anggota kelompoknya. Ketua kelompok segera
mengumpulkan dan guru memberikan tugas kepadanya untuk mengambil hasil pekerjaan kelompok lain untuk
direfleksi oleh anggota kelompoknya serta mempresentasikan hasilnya yang
ditujukan kepada kelompok belajar yang direfleksi hasil pekerjaannya. Selama
kegiatan ini sedang berlangsung, guru membimbing secara intensif. Mengakhiri
kegiatan ini, guru menilai hasil pekerjaan masing-masing kelompok belajar dan
kepada siswa yang hasil belajarnya lebih baik, guru memberikan penghargaan
khusus (reward).
(3) Kegiatan
Akhir
Kegiatan
akhir berlangsung selama 35 menit. Langkah-langkah yang ditempuh oleh guru dan
siswa tidak jauh berbeda dengan siklus I. mengawali kegiatan akhir, guru
berusaha memahamkan siswa dengan cara memberi simpulan materi ajar yang telah
dipelajari. Seluruh siswa menuliskan simpulan tersebut di buku catatan
hariannya dengan tertib. Mengakhiri kegiatan akhir, guru mengadakan evaluasi
terhadap kemampuan siswa. Pelaksanaan
kegiatan evaluasi pun berlangsung dengan tertib. Akhirnya guru dan siswa
menutup pembelajaran dengan do’a.
Guna
melengkapi hasil observasi di atas, penulis mengadakan wawancara dengan guru
dan beberapa orang siswa dengan tujuan untuk memperoleh keterangan-keterangan
sebagai berikut.
·
Guru merasa puas atas hasil upayanya yang telah mampu
mengubah cara belajar siswa menjadi lebih baik dari sebelumnya.
·
Guru merasa puas atas hasil upayanya telah membawa
siswa pada perubahan proses belajar yang sebenarnya.
·
Guru merasa yakin bahwa perubahan perilaku siswa dalam
belajar dan berikut hasilnya karena ada perlakuan. Perlakuan ini mengenai
sasaran, sehingga tuntutan pembelajaran dapat dipenuhi dengan baik oleh setiap
siswa.
·
Siswa
merasa senang pada cara belajar yang baru saja ditempuhnya di siklus II.
·
Siswa
telah memperoleh pengalaman menarik yang sebelumnya tidak demikian, baik pada
saat belajar mengonstruksi (mengeksplorasi), konsolidasi, elaborasi, maupun
kolaborasi.
·
Siswa
merasakan lebih bermakna ketika mengalami sendiri tahapan-tahapan yang
sebenarnya.
Selain diperoleh beberapa keterangan
di atas, juga diperoleh hasil penilaian guru terhadap aktivitas belajar siswa
yang menyerminkan konteks pembelajaran. Hasil penilaian tersebut diuraikan pada
bagian observasi.
3)
Observasi dan
Evaluasi
Hasil observasi dan
evaluasi pelaksanaan tindakan siklus II menunjukkan perubahan yang lebih baik
daripada siklus I. Jelasnya mengenai hal itu, sebagai berikut.
(1) Hasil
observasi aktivitas siswa dalam PBM menulis huruf
hijaiyah yang disajikan dengan menggunakan teknik menulis terbimbing selama siklus
II dapat dilihat pada tabel dan grafik di bawah ini.
Tabel 2
Aktivitas Siswa dalam Kelompok pada Siklus II
Kelompok
|
Skor
Perolehan
|
Skor Ideal
|
%
|
Keterangan
|
Diponegoro
|
12
|
16
|
75
|
|
Hasanudin
|
13
|
16
|
81
|
|
Imam Bonjol
|
14
|
16
|
88
|
Tertinggi
|
Patimura
|
11
|
16
|
69
|
|
Cut Nya Dien
|
10
|
16
|
63
|
Terendah
|
Teuku Umar
|
11
|
16
|
69
|
|
Kartini
|
12
|
16
|
75
|
|
Dewi Sartika
|
13
|
16
|
75
|
|
Rerata
|
12
|
16
|
74
|
|
Grafik
2
Perolehan Skor Aktivitas Siswa dalam PBM Siklus II

(2) Hasil observasi aktivitas guru dalam PBM menulis huruf hijaiyah yang
disajikan dengan menggunakan teknik menulis terbimbing pada siklus II tergolong
sedang. Hal ini berarti mengalami perbaikan dari siklus I. Dari skor ideal 44,
nilai yang diperoleh adalah 35 atau 80%.
(3) Hasil evaluasi penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran pada siklus
II juga tergolong sedang, yakni dari nilai skor ideal 100 nilai rerata skor
perolehan adalah 70 atau 70%.
(4) Hasil evaluasi siklus II mengalami peningkatan yang sebelumnya 5,48
menjadi 6,53. Ini berarti naik 1,05.
4)
Refleksi dan
Perencanaan
Adapun keberhasilan yang diperoleh selama
siklus II ini, sebagai berikut.
(1)
Aktivitas siswa dalam PBM sudah mengarah ke
langkah-langkah teknik menulis terbimbing. Siswa mampu membangun kerja sama
dalam kelompok untuk memahami tugas yang diberikan guru. Siswa mulai mampu
berpartisipasi dalam kegiatan dan tepat waktu dalam melaksanakannya. Siswa
mulai mampu mempresentasikan hasil kerja dengan baik. Hal ini dapat dilihat
dari data hasil observasi terhadap aktivitas siswa meningkat dari 69% pada
siklus I menjadi 74% pada siklus II.
(2)
Meningkatnya aktivitas siswa dalam PBM
didukung oleh meningkatnya aktivitas guru dalam mempertahankan dan meningkatkan
suasana pembelajaran menulis huruf hijaiyah yang mengarah pada
langkah-langkah teknik menulis terbimbing. Guru secara intensif membimbing
siswa saat mengalami kesulitan dalam PBM. Hal ini dapat dilihat dari hasil
observasi aktivitas guru dalam PBM meningkat dari 61,36% pada siklus I menjadi
80% pada siklus II.
(3)
Meningkatnya aktivitas siswa dalam
melaksanakan evaluasi berdampak pada meningkatnya kemampuan siswa dalam
menguasai materi pembelajaran menulis huruf hijaiyah. Hal ini
berdasarkan hasil evaluasi diperoleh 6,20 pada siklus I meningkat menjadi 7,00
pada siklus II.
(4)
Meningkatnya rata-rata nilai ulangan pada siklus
2 menjadi 6,53.
Siklus
III
1) Perencanaan Tindakan
Perencanaan
tindakan siklus III berusaha mengakomodasi hasil
refleksi tindakan siklus II, antara lain: (1) memberikan motivasi kepada
kelompok agar lebih aktif lagi dalam merespon tuntutan pembelajaran; (2) lebih
intensif membimbing kelompok yang mengalami kesulitan; (3) memberi pengakuan atau penghargaan (reward); (4) memerankan tutor dalam
kelompok belajar. Dasar pertimbangan ini disepakati oleh tim peneliti. Kegiatan
lain yang ditempuh pada tahap ini, sebagai berikut.
(1) Membuat
rencana pelaksanaan pembelajaran menulis huruf hijaiyah yang akan disajikan
dengan menggunakan teknik menulis terbimbing.
(2) Membuat
lembar kerja siswa.
(3) Menyusun alat
evaluasi pembelajaran.
(4) Membuat instrumen yang digunakan dalam PTK siklus III, antara lain:
·
lembar observasi
untuk perencanaan pembelajaran;
·
lembar observasi untuk aktivitas guru dan
siswa dalam melaksanakan pembelajaran;
·
lembar wawancara
untuk guru dan siswa serta teman sejawat.
2)
Pelaksanaan
Tindakan
(1) Kegiatan
Awal
Aktivitas
guru dan siswa dalam kegiatan awal berlangsung selama 17 menit. Guru mengawali
kegiatan pembelajaran dengan cara mengajak siswa untuk mengingat kembali materi
ajar yang telah dipelajarinya pada tindakan siklus II. Kepada siswa yang mampu
mengingat dengan baik, guru memberikan pujian dan kepada yang lain memotivasi
agar memiliki keberanian untuk menyampaikan daya ingatnya.
Setelah
mengadakan apersepsi, guru menjelaskan tujuan yang harus dicapai oleh siswa dan
cara belajar untuk mencapainya. Seluruh siswa tampak memahami benar informasi
yang disampaikan guru.
(2) Kegiatan
Inti
Tanpa
menunggu intruksi dari guru, seluruh siswa membentuk kelompok belajar. Kegiatan
ini berlangsung dengan tertib. Setelah tampak dalam kondisi yang diharapkan,
guru menyajikan materi ajar, memberikan bahan eksplorasi, konsolidasi,
elaborasi, dan kolaborasi kepada masing-masing kelompok belajar.
Dalam
kelompok belajar, seluruh siswa tampak berinteraksi mengikuti petunjuk guru. Kegiatan ini
berlangsung lebih baik dari sebelumnya. Hal ini karena pengalaman masing-masing siswa selama mengikuti tiga siklus
pembelajaran menulis huruf hijaiyah berdasarkan langkah-langkah teknik menulis
terbimbing. Selama kegiatan ini sedang berlangsung, guru membimbing
proses belajar siswa secara intensif, memberi bantuan kepada siswa yang cukup
mengalami kesulitan dalam memenuhi setiap tuntutan. Mengakhiri kegiatan inti, guru memberikan waktu
selama 5 menit untuk mempresentasikan hasil kerja salah satu kelompok.
Sementara itu, kepada siswa dalam kelompok lain, disilakan untuk menanggapi dan
atau menambahkan bila mana diketahui ada kekurangan dari pembahasan kelompok
belajar yang sedang
tampil. Mengakhiri kegiatan ini, guru menilai hasil pekerjaan masing-masing
kelompok belajar dan kepada siswa yang hasil belajarnya lebih baik, guru
memberikan penghargaan khusus (reward).
(3) Kegiatan
Akhir
Kegiatan
akhir berlangsung selama 35 menit. Langkah-langkah yang ditempuh oleh guru dan
siswa tidak jauh berbeda dengan siklus I. mengawali kegiatan akhir, guru
berusaha memahamkan siswa dengan cara memberi simpulan materi ajar yang telah
dipelajari. Seluruh siswa menuliskan simpulan tersebut di buku catatan
hariannya dengan tertib. Mengakhiri kegiatan akhir, guru mengadakan evaluasi
terhadap kemampuan siswa. Pelaksanaan
kegiatan evaluasi pun berlangsung dengan tertib. Akhirnya guru dan siswa
menutup pembelajaran dengan do’a.
Guna
melengkapi hasil observasi di atas, penulis mengadakan wawancara dengan guru
dan beberapa orang siswa dengan tujuan untuk memperoleh keterangan-keterangan
sebagai berikut.
·
Guru merasa sangat puas atas hasil upayanya yang telah
mampu mengubah cara belajar siswa menjadi lebih baik dari sebelumnya.
·
Guru merasa sangat puas atas hasil upayanya telah
membawa siswa pada perubahan proses belajar yang sebenarnya.
·
Guru merasa lebih yakin bahwa perubahan perilaku siswa
dalam belajar dan berikut hasilnya karena ada perlakuan. Perlakuan ini mengenai
sasaran, sehingga tuntutan pembelajaran dapat dipenuhi dengan baik oleh setiap
siswa.
·
Siswa merasa senang pada cara belajar yang baru saja
ditempuhnya di siklus III.
·
Siswa telah memperoleh pengalaman menarik yang
sebelumnya tidak demikian, baik pada saat belajar mengonstruksi
(mengeksplorasi), konsolidasi, elaborasi, maupun kolaborasi.
·
Siswa merasakan lebih bermakna ketika mengalami
sendiri tahapan-tahapan yang yang sebenarnya.
Selain
diperoleh beberapa keterangan di atas, juga diperoleh hasil penilaian guru
terhadap aktivitas belajar siswa yang menyerminkan aktivitas guru dalam
mengelola pembelajaran.
Ada
beberapa catatan yang menggambarkan hasil pengamatan masing-masing terhapap
pelaksanaan tindakan siklus III, seperti dijelaskan berikut.
·
Suasana pembelajaran menulis huruf hijaiyah sudah
lebih mengarah pada langkah-langkah teknik menulis terbimbing.
Tugas yang diberikan guru kepada kelompok dengan menggunakan lembar kerja
akademik mampu dikerjakan dengan lebih baik lagi. Siswa dalam satu kelompok
menunjukkan saling membantu untuk menguasai materi pelajaran yang telah
diberikan melalui tanya jawab atau diskusi antarsesama anggota kelompok. Siswa kelihatan lebih antusias
mengikuti PBM.
·
Hampir semua siswa merasa termotivasi untuk bertanya
dan menanggapi suatu presentasi dari kelompok lain.
·
Suasana pembelajaran yang efektif dan menyenangkan
sudah lebih tercipta
3)
Observasi dan
Evaluasi
Hasil observasi selama siklus III dapat
dijelaskan sebagai berikut.
(1) Hasil observasi aktivitas siswa dalam PBM pada siklus III tertuang pada
tabel dan grafik berikut.
Tabel 3
Perolehan Skor Aktivitas Siswa dalam PBM Siklus III
Kelompok
|
Skor Perolehan
|
Skor Ideal
|
%
|
Keterangan
|
Diponegoro
|
14
|
16
|
88
|
|
Hasanudin
|
14
|
16
|
88
|
|
Imam Bonjol
|
15
|
16
|
94
|
Tertinggi
|
Patimura
|
13
|
16
|
81
|
|
Cut Nya Dien
|
12
|
16
|
75
|
Terendah
|
Teuku Umar
|
13
|
16
|
81
|
|
Kartini
|
14
|
16
|
88
|
|
Dewi Sartika
|
14
|
16
|
89
|
|
Rerata
|
12
|
16
|
85
|
|
Grafik 3
Perolehan
Skor Aktivitas Siswa dalam PBM Siklus III

(2)
Hasil observasi siklus III, aktivitas guru
dalam PBM mendapat rerata nilai perolehan 40 dari skor ideal 44 atau 91%. Hal
ini berarti menunjukkan adanya peningkatan yang sangat signifikan.
(3)
Hasil evaluasi siklus III, penguasaan siswa
terhadap materi pembelajaran menulis huruf hijaiyah yang
disajikan dengan menggunakan teknik menulis terbimbing memiliki nilai rerata
85 atau 85% dari skor ideal 100. Hal ini menunjukkan penguasaan siswa terhadap
materi pembelajaran tergolong tinggi.
(4)
Hasil evaluasi siklus III mengalami
peningkatan yang cukup berarti, yakni 7,60, sedangkan sebelumnya 5,48 pada
siklus I dan pada siklus II adalah 6,53.
4)
Refleksi
Adapun keberhasilan
yang diperoleh selama siklus 3, sebagai berikut.
(1)
Aktivitas siswa dalam PBM menulis huruf hijaiyah sudah mengarah ke langkah-langkah teknik
menulis terbimbing. Siswa mampu
membangun kerja sama dalam kelompok untuk memahami tugas yang diberikan guru.
Siswa mulai mampu berpartisipasi dalam kegiatan dan tepat waktu dalam
melaksanakannya. Siswa mulai mampu mempresentasikan hasil kerja. Hal ini dapat
dilihat dari data hasil observasi terhadap aktivitas siswa meningkat dari 74%
pada siklus II menjadi 85% pada siklus III.
(2)
Meningkatnya aktivitas siswa dalam PBM
didukung oleh meningkatnya aktivitas guru dalam mempertahankan dan meningkatkan
suasana pembelajaran menulis huruf hijaiyah yang mengarah pada
langkah-langkah teknik menulis terbimbing. Guru secara intensif membimbing
siswa, terutama saat siswa mengalami kesulitan dalam PBM dapat dilihat dari
hasil observasi aktivitas guru dalam PBM meningkat dari 80% pada siklus II
menjadi 91% pada siklus III.
(3)
Meningkatnya aktivitas siswa dalam
melaksanakan evaluasi berkontrBapaksi terhadap meningkatnya kemampuan siswa
dalam menguasai materi pembelajaran. Hal ini berdasarkan hasil evaluasi 7,00
pada siklus II meningkat menjadi 8,50 pada siklus III.
(4)
Meningkatnya rata-rata nilai ulangan siklus
III dari 5,48 (ulangan siklus I) menjadi 6,53 (ulangan siklus II) dan 7,33
(ulangan siklus III).
H.
Simpulan dan Saran
a.
Simpulan
Setelah membahas hasil penelitian tindakan kelas dalam pembelajaran menulis huruf hijaiyah yang disajikan dengan
menggunakan teknik menulis terbimbing, akhirnya dapat diambil suatu simpulan
guna menjawab pokok masalah yang menjadi fokus kajian, yaitu sebagai berikut.
1.
Langkah-langkah
menggunakan teknik menulis terbimbing untuk
meningkatkan kemampuan
siswa dalam menulis huruf hijaiyah menempuh tahapan strategis berikut: (1)
menyusun perencanaan pembelajaran menulis huruf
hijaiyah berdasarkan
langkah-langkah teknik menulis terbimbing; (2) melaksanakan pembelajaran menulis huruf hijaiyah sesuai dengan rencana; (3) mengevaluasi
aktivitas dan hasil belajar siswa; dan (4) menindaklanjuti hasil refleksi
terhadap aktivitas dan hasil belajar siswa. Proses yang ditempuh dalam setiap
tahapan ini, baik yang dilakukan guru maupun siswa tidak lepas dari ketentuan
yang berlaku, demi tercapainya tujuan yang diharapkan. Aktivitas belajar siswa
bukan saja secara bertahap sesuai dengan norma pembelajaran ini, tetapi juga
hasil yang didapat pun secara bertahap meningkat pula. Siswa menjadi aktif dan
memahami perannya sebagai apa dalam anggota kelompoknya. Antarsiswa bukan saja
tampak merasa senang dan antusias saat berbagi ide dan bertanya jawab, tetapi
juga santun dalam melakukan hal itu. Itu sebabnya teknik menulis terbimbing
diterapkan.
|
2.
Kemampuan siswa meningkat dalam menulis huruf
hijaiyah setelah digunakan teknik menulis terbimbing, baik dilihat dari
aktivitas maupun hasil belajarnya. Selain aktivitas belajar siswa terkesan
lebih bermakna (meaningful learning), potensi aktifnya pun dalam
menggali ide, saling berbagi dan menerima gagasan sehubungan dengan materi
ajar, bertanya jawab dengan teman dan guru, kreatif dalam prakarsa dan tindakan
dengan tidak melukai perasaan satu sama lain, hal ini terjadi pada saat proses
pembelajaran ini berlangsung. Dengan sendirinya, hasil belajar masing-masing
siswa setelah menempuh proses akitivitas belajar secara terlatih ini,
meningkat. Hal ini terbukti dari hasil observasi memperlihatkan bahwa terjadi
peningkatan aktivitas yang pada siklus I hanya rata-rata 69% menjadi 74% pada
siklus II, dan 85% pada siklus II.
Penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran menunjukkan peningkatan. Hal ini
dapat ditunjukkan dengan rata-rata hasil ulangan harian, yakni siklus I
mencapai 5,48 menjadi 6,53 pada siklus II dan 7,33 pada siklus III. Melalui
langkah-langkah teknik menulis terbimbing, siswa membangun sendiri pengetahuan,
menemukan langkah-langkah dalam mencari penyelesaian dari suatu materi yang
harus dikuasai oleh siswa, baik secara individu maupun kelompok.
b.
Saran
Telah terbuktinya teknik menulis
terbimbing dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran
menulis huruf hijaiyah, maka diajukan saran sebagai berikut.
1.
Dalam kegiatan belajar mengajar guru
diharapkan menjadikan teknik menulis terbimbing sebagai suatu alternatif guna
mencapai tujuan pembelajaran menulis huruf hijaiyah, yaitu siswa aktif dalam
belajar dan berhasil mencapai hasil belajar yang diinginkan. Setiap tahapan
yang sudah ditempuh, baik dalam perencanaan, pelaksanaan, maupun evaluasi dan
tindak lanjut, akan menjadi lebih baik apabila direnungkan secara bijak agar
diperoleh proses setiap tahapan yang akurat.
2.
Karena kegiatan ini sangat bermanfaat
khususnya bagi guru dan siswa, maka diharapkan kegiatan ini dapat dilakukan
secara berkesinambungan, baik dalam mengelola pembelajaran yang sama, maupun
yang lain di dalam atau di luar mata pelajaran ini.
I.
Daftar Rujukan
Abdul
Karim Husain, (1985), Seni Kaligrafi Khat
Naskhi, Jakarta: CV. Pedoman Ilmu
Jaya.
Abdul
Majid dan Dian Andayani, (2004), Pendidikan
Agama Islam Berbasis Kompetensi: Konsep dan Implementasi Kurikulum 2004,
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Abdul
Rachman Shaleh, (2005), Pendidikan Agama
Islam dalam Pembangunan Watak Bangsa, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Aep
Kusnawan, (2004), Berdakwah Lewat Tulisan,
Bandung: Mujahid Press.
Ahmad
Izza, (2004), Metodologi Pembelajaran
Bahasa Arab, Bandung: Humaniora.
Departemen
Agama Republik Indonesia, (2005), Al-Quran
dan Terjemahnya, Bandung: CV Penerbit J-ART.
Fadlulah,
(2008), Orientasi Baru Pendidikan Islam,
Jakarta: Diadit Media.
Hadari
Nawawi, (1998), Metode Penelitian Bidang
Sosial, Yogyakarta: Gajah Mada University Press.
Harun
Rasyid, (1999), Metode Penelitian
Kuantitatif,. Romeo Grafika.
Hendra
Sugiantoro, Menulis, Tradisi Islam, http://www.dakwah-uny.com/berita-151-menulis, tradisi Islam. htm. (diakses 20 September 2010).
Hendry
Wahyudi, (2004), Kemampuan Membaca dan
Menulis Al-Qur’an Mahasiswa Tarbiyah STAIN Pontianak Angkatan 2003-2004
Skripsi: STAIN.
Ibnu
Hajar, (1996), Dasar-Dasar Metodologi
Kuantitatif Dalam Pendidikan, Jakarta:
PT. Raja Grafindo Persada.
Indasyah,
(2007), Kemampuan Menulis Ayat-Ayat
Al-Quran pada Mahasiswa STAIN Pontianak Angkatan 1995/1996, Skripsi: STAIN.
Muhammad
Bin Muhammad Abu Syuhbah, (2003), Studi
Ulumul Qur’an: Telaah atas Mushaf Ustmani, Bandung: CV Pustaka Setia.
M.
Quraish Shihab, (1999), Wawasan Al-Qur’an,
Bandung: Mizan.
Nana
Sudjana, (1989), Metode Statistika,
Bandung: Tarsito.
Sugiyono,
(2008), Metode Penelitian Pendidikan, Bandung:
Alfabeta.
Surya
Madya, Dkk, (2004), Kiat Mudah&Cepat
Baca Al-Qur’an, Jakarta: Pustaka Amma.